Sabtu, 18 Mei 2013

* Cerita Asik 25 Gelapnya Sel Tahanan

Gelapnya Sel Tahanan

"Aku tidak bersalah apapun" protesku
"Nanti saja urusannya, pokoknya ikut ke kantor"
"Anda tidak berhak menahanku" 

"Melawan petugas ya!" ancam petugas tramtib ketika mereka menertibkan kawasan liar di pinggiran rel kereta api, dua tangan kekar mencengkeram lenganku dikiri dan kanan dan menggelandang aku masuk kedalam mobil tahanan bersama beberapa orang lagi yang sudah berada didalam mobil tersebut. Kebenaran aku lagi ngluyur tak tentu arah dan sialnya ikut kena garuk aparat tramtib tanpa mau tahu alasan mengapa aku ada disana dan satu satunya yang menjadi alasan adalah karena aku tidak dapat menunjukkan kartu identitas pada malam itu. Ya bagaimana aku dapat menunjukkan kartu identitas, karena aku hanya berniat santai sejenak dengan baju kaos buntung celana volley yang kantongnya jebol tentunya aku tidak dapat membawa dompet yang berisi KTP. 

Sidang tipiring berlangsung super kilat dan keputusannya aku ditahan sementara sampai besok pagi di tahanan polsek karena tidak dapat membayar denda serupiahpun dan tidak ada keluarga atau sanak saudara yang datang membebaskanku, klik kunci sel membuka kamar tahanan dan aku didorong masuk. Klik kunci berbunyi lagi pintu kamar tertutup rapat dan aku masih gelap berusaha menyesuaikan pandangan mata dengan gelapnya ruangan tahanan itu. Buset, kakiku menginjak sesosok tubuh 

"Heh, mata loe mana, jangan asal nyosor aja" sesosok tubuh yang aku injak bersuara kesal karena tubuhnya aku injak 

"Oh, maaf mas, aku nggak sengaja" tukasku lirih
Aku mundur sedikit dan duduk berjongkok menunggu pulihnya pandanganku menyesuaikan diri dengan suasana gelap didalam kamar tahanan. Astaga, ternyata didepanku tadi bukan satu orang tetapi dua orang lagi gencet yang aku injak, setelah pandanganku pulih dan mengamati suasana kamar. Eh bukan dua orang tapi empat orang, tiga orang saling tindih mengentot dan seorang lagi berada didepan ketiga orang tersebut dengan kontol ngaceng bergantian diselomoti oleh ketiga orang yang saling mengentot itu, dan disudut lain dari kamar tahanan ada dua orang 69 saling menyepong kontol dengan buas dan berkecipak kecipok. Buset, berarti aku adalah orang ke tujuh dalam kamar tahanan sesempit ini dan aku tak tahu apa yang harus aku perbuat diantara mereka yang sedang bergulat memuaskan hawa nafsu jalang. 

"Arrggh... shh... arrggh... shh... gua mo mancrut neh" terdengar desahan salah seorang dari mereka
"Hi yes... ohh... hi yes... mancrutin aja"
"Ohh... memekmu seret banget, ohh... arrggh" 

"Gimana kagak seret, kontol loe berdua mononin pantat gua, arrggh... shh... arrggh... enaaak"
Aku tertidur duduk didalam kamar tahanan itu entah untuk berapa lama sampai ketika aku terbangun oleh karena udara bertambah panas ternyata sudah siang dan terasa ada belaian tangan dipahaku.
"Paha loe putih mulus banget" kata seorang tahanan yang brewokan, muka bopeng bekas jerawat batu, tersenyum mesum ketika aku bangun dan menatap mukanya yang berada dekat dengan mukaku. Dan tanpa merasa risih sedikitpun segera dia mencipok mulutku yang asem belum sikat gigi didepan tatapan kelima orang tahanan lain. Tangannya menjalar mengusap dada dan pentilku dari pinggir robekan kaos buntungku dan shrieek.. kaosku direnggutnya hingga pentilku yang merah jambu terpapar terbuka keluar dari kaos buntungku yang robek dibagian dada itu akh... 

"Nyam nyam, pentil susumu merah jambu euy" katanya pula sambil mengemut pentilku lidahnya dengan nakal mengusap usap pentilku dan tangannya mulai masuk kedalam celana volley yang aku pakai langsung menggerayangi kontolku. Aku deg deg ser apalagi ketika tahanan lain mulai beranjak mendekati dan menjamah sekujur tubuh aku yang sedang terengah engah dikerjai oleh tahanan yang brewokan ini. 
 
"Heh, loe pade ntar dapat bagian, gue duluan yang merawani" bentak sibrewok kepada tahanan lain dan mereka berhenti menjamah dan dan shrieek pantat celanaku dengan ganas dirobek olehnya
"Dudukin kontol gua" perintah si brewok yang kini berbaring dengan kontol gede item berjembut lebat tegak ngaceng kaya tugu monas dengan kepala kontolnya gede merah keunguan segede muka anak anjing baru lahir. Belum tahu dia siapa aku, seakan segan aku berpura pura takut melihat kontolnya dan hal itu membuat dia nggak sabaran segera menangkap kudukku untuk kemudian diarahkannya mulutku untuk menyepong kontolnya dan 

"Ayo masukkan lobang pantat loe, gue hajar juga loe kalo ngelawan" bentaknya
Aku mengangkangi tubuhnya dan dengan memegang kontolnya yang keras tegang tegak berdiri aku arahkan kelobang pantatku dan bless... kepala kontolnya yang gede menyeruak masuk membuka cincin lobang pantatku, secara perlahan senti demi senti batang kontol gede sepergelangan tanganku masuk kedalam lobang pantatku sampai pinggir lobang pantatku menyentuh jembutnya yang tebal dan biji pelerku dan biji pewlernya beradu... akh, aww atiiit mas, ahh... gede banget aww... 

"Diem lo jangan berisik, eh Jon sumbat mulutnya dengan kontolmu" si brewok menghardikku dan memerintahkan tahanan yang dipanggil Jon untuk mengentotin mulutku dan dalam sekejap kontol si Jon yang udah ngaceng berat masuk menghunjam mulutku sampai kepangkal tenggorokan... arrggh. Aku mulai menggeol, menggoyang dan menggitekkan lobang pantatku sehingga kontol gede si brewok terpilin pilin didalam lobang dan mengaduk isi lobang pantatku. Keringat membasahi tubuh kami karena selain permainan seks yang sedang berlangsung seru juga udara panas dalam kamar tahanan yang sempit berisi tujuh orang menyebabkan keringat membanjir basah kuyup licin, sisa baju kaosku lengket abis ketubuh demikian pula baju tahanan lainnya sama basah kuyupnya mencetak setiap lekuk dan tonjolan tubuh mereka, akh erotik banget... euy 
 
Brewok muncrat abis abisan akibat pilinan otot cincin lobang pantatku dan kini dia mempersilahkan rekan tahanan lain untuk menikmati tubuhku. Jon menggantikan posisi brewok berbaring dengan kontolnya tertancap dilobang pantatku dan sebuah kontol lain datang menghunjam bareng masuk kedalam lobang pantatku dan dua kontol lain bergantian keluar masuk kedalam mulutku, si Brewok kini minta dientot pula oleh tahanan yang satu lagi, sambil nungging kaya anjing dan mulutnya berada menyepong kontolku yang ngaceng berat berlumuran pre cum, kumis dan janggutnya terasa menggelitik batang kontol dan biji pelerku shh... enak mas, shh... akh sedot lagi mas... arrggh... oh shit, fuck me harder..... aku muncrat abis didalam mulut si brewok hingga sebagian pejuhku membasahi kumis dan janggutnya. Satu persatu pula tahanan itu kembali memuntahkan lahar panas semburat hormon lelaki perkasa kedalam tubuhku, berlumuran keringat bercampur liur dan pejuh akhh... bertujuh kami terkulai lemas, tergolek dilantai tahanan terengah engah mengatur nafas yang hampir mau putus akibat kekurangan oksigen oleh karena sumpeknya kamar tahanan yang sempit itu.
Siang menjelang sore, aku dikeluarkan dari kamar tahanan karena masa penahananku sudah selesai karena hanya kasus tipiring, tindakan pidana ringan, tidak membawa KTP. Polisi yang membebaskanku mengangkat alisnya tinggi melihat penampilanku yang babak belur, baju dan celana robek berlumuran keringat dan pejuh, sekujur tubuh penuh cupang dan bekas gigitan jejas permainan gangbang bersama 6 tahanan lain 

"Lho kamu tak apa apa?" tanyanya prihatin
"Hmm... nggak papa pak, tambah satu malam lagi juga boleh koq" jawabku kalem
"Akh dasar homo anjing geladak loe ah, doyan kontol juga rupanya" gerutunya sambil memandangi tubuhku yang putih mulus berjejas cupangan dan tonjolan diselangkangannya segera membengkak
"Hmm..." 

"Ayo kesini isepin kontol gua" polisi itu mengeluarkan senjata kejantanannya yang sudah siap dikokang untuk menembakkan pejuh 

Kesempatan nggak boleh dilewatkan, kontol polisi yang keluar dari celana seragam coklat ketat ngepas aku kilik kilik lobang kencingnya aku jilat kepala kontolnya dan batang kontolnya aku emut sampai kedua biji peler polisi tersebut aku kulum.
"Kontolnya gede banget mas" kataku memujinya
"Jangan banyak bacot ah, emut aja" oceh polisi
"Kalo ngentot kontol ini pasti nge-joss ye" 
 
"Shh... enak banget, sekarang gua mo entotin pantat loe, nungging!" perintahnya padaku
Masih dengan seragam lengkap polisi itu mengembat lobang pantatku yang masih licin anget oleh timbunan pejuh tahanan, desahan erangan dan lenguhan jantan bagaikan kuda liar mengentotin betinanya dia memuntahkan pejuhnya didalam lobang pantatku dan sebelum aku diijinkan keluar dengan bebas dia mengharuskan aku menjilatin lelehan pejuh di kepala kontol, batang kontol, jembut dan biji pelernya. 

"Slluurrph... slluurrph... akhhh... slluurrph"
lelehan pejuh aku seruput dan lidahku menjilat pinggir bibirku yang belepotan pejuh polisi tersebut. Di kamar tahanan ke enam tahanan saling ngloco dan pejuh kembali muncrat berhamburan kemana mana ketika melihat polisi mengentotin aku di depan mereka, minta pada pak polisi agar aku dimasukkan kembali kekamar tahanan untuk mereka nikmati lagi kehangatan sedotan mulutku dan empotan lobang pantatku, gay gangbang. 
 
"Pulang loe sana lonte homo anjing, sebelum boolmu brantakan dedel dower dibuat mereka" polisi mengusirku dari polsek tersebut dan aku berjalan gontai menuju kamar kostku dengan pejuh masih meleleh perlahan anget licin membasahi lobang pantat dan berulang kali aku muncrat didalam celana volley basah berlumuran pejuh yang sudah robek disana sini sebelum aku tiba dikamar kostku

* Cerita Asik 24 A N D I DAN A N T O

A N D I DAN A N T O
 
by : Fadli Vhaleandra


Namaku Andi. Aku mengenal dunia ini tahun 1999, usiaku saat itu 19 tahun. Saat itu aku bekerja di salah satu perusahaan armada taksi yang berlambang burung. Aku bekerja di sana sebagai tenaga lepas di salah satu sekolah luar negeri di bilangan Bintaro, dimana perusahaan bekerjasama dengan sekolah tersebut. Aku bekerja sebagai Chaperone. Aku tidak menyangka bahwa di pool taksi yang berada di daerah

pemakaman Bung Hatta ternyata ada staff yang mempunyai kelainan seksual juga. Karena pada saat itu aku baru mengenal dunia semu ini. Siang itu, tanggal 30 November 1999, aku baru selesai mengerjakan tugas (sebagai tenaga lepas aku bekerjahanya part time). Aku masuk ke dalam ruangan untuk menemui omku yang sedang ada di pool. Walaupun Omku sebenarnya mempunyai kantor di sekolah luar negeri.

Setelah selesai bertemu, aku kemudian keluar melalui pintu samping dan aku bertemu dengan seorang staff yang ingin masuk. Aku tersenyum kepadanya karena aku pikir untuk menghormatinya. Lalu dia membalas senyumanku disertai pandangan matanya yang memancarkan sinar yang aneh. Aku menundukkan kepala karena aku tidak kuat untuk menatapnya. Dia terus memandangku, padahal aku sudah berlawanan arah. Dari balik pintu kaca, dia terus memandangiku dan aku pun juga begitu. Lalu aku duduk di dekat pos satpam sambil menunggu temanku yang akan pulang bersama. Tempat aku duduk berhadapan dengan ruang kerja staff gudang tempat dia bekerja. Dia kembali dari ruang utama menuju ruang kerjanya. Sambil lewat dia memandangiku dengan berusaha mengedipkan matanya dan tangannya menunjukkan jam. Aku tersenyum dan mengerti akan sign-nya, bahwa aku harus menunggu dia pulang kerja sekitar jam 16:00, padahal saat itu waktu baru menunjukkan jam 14:00. Akhirnya aku menunggu dia selama 2 jam.

Saat dia pulang, dia terus melihatku dan memberi tanda untuk mengikutinya. Aku mengerti dan mengikutinya naik mobil jurusan blok M. Dia naik mobil itu bersama temannya di pintu depan, sedangkan aku di pintu belakang. Aku melihatnya mengobrol dengan temannya, tetapi matanya terus memandangku. Dia turun di tikungan yang akan ke arah Mayestik dari Singgalang sambil matanya mengajakku untuk turun. Kami duduk dan mengobrol di halte bus dekat pom bensin. Kami berkenalan. Dia mengaku bernama Anto. Sambil bicara, tangannya mulai menyentuh dan mengelus paha bawahku. Aku diam saja walau aku mulai merasa celana dalamku sesak. Dia berusia sekitar 30 tahun dengan wajahnya ditumbuhi kumis serta jenggot yang baru tumbuh seusai dicukur. Tangan kirinya terus mengelus paha bawahku, sedangkan tangan kananya menghisap rokok Malboro.

Hari mulai senja dan akhirnya kami naik Patas jurusan Senen. Di dalam bis yang kebetulan sepi, dia memegang tanganku dan meremas senjataku. Aku pun juga meremas senjatanya yang sudah menegang keras dan panjang. Kami turun di pintu I Senayan, menuju ke Stadion Senayan. Kami berjalan berkeliling memutari Stadion. Kemudian aku merasa ingin pipis, mungkin karena perlakuan dia kepadaku di bis tadi. Lalu dia mengajakku keluar melalui pintu V yang remang-remang dan menyuruhku pipis di situ. Aku tidak bisa pipis karena dia berada di bawahku sambil duduk.

“Aku ngga bisa pipis.” kataku.

Lalu dia tersenyum dan mendekatiku yang sedang berdiri sambil memegang senjataku. Dia duduk tepat di depan senjataku yang telah menegang, lalu dia mulai menjilati senjataku dengan lidahnya.

“Akh…” aku merasa sesuatu yang aneh yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Dia mulai menghisap serta menggerakkan mulutnya maju mundur, aku merasakan desakan yang sangat hebat sambil membelai kepalanya aku melihat sekelilingku takut ada orang yang lewat.

“Gila…” pikirku.

Dia begitu hebat dan mahir, mungkin karena dia sudah berpengalaman. Dia terus mengocokkan senjataku ke dalam mulutnya dan matanya terus memandangiku.

“Ah… oh… uh… akhhh…” aku menjerit hebat ketika aku merasakan sesuatu akan meledak di dalam mulutnya.

Tubuhku bergetar dan tanganku meremas pelan rambutnya. Dia menelan semua spermaku.

Lalu dia mengajakku duduk di sampingnya seraya berkata, “Ndi, rahasiakan yach kejadian ini, jangan sampai terdengar di pool.”

Aku tersenyum dan mengiyakan.

“Kamu ngga dikeluarin?” tanyaku.

“Ngga usah, biar kamu aja.” jawabnya.

“Kok ditelan?”

“Iya, itu artinya saya sayang kamu.”

Kemudian dia menciumi leherku dan aku meraba bagian depan celananya. Ternyata dia sudah tegang, lalu kukeluarkan senjatanya dari celananya. Penisnya cukup besar dan panjang, aku mulai mengocoknya dengan tanganku, sedangkan dia terus menciumi leherku. Tidak berapa lama kemudian, dia mengeluarkan laharnya sampai muncrat ke jalanan. Dia tersenyum bahagia, aku pun demikian. Dia memberiku nomer telpon kantor. Sejak itu aku mulai menelpon dia dan kami selalu melakukannya baik itu di senayan maupun di kamar bilas keluarga Gelanggang Renang yang ada di Jakarta Utara.

Pada saat bulan puasa, tepatnya malam tahun baru 2000, aku jebol satu kali dengan dia. Sehari setelah lebaran pertama, kira-kira jam 15:00, aku menelpon Anto dan mengajaknya bertemu. Padahal belum ada seminggu kami bertemu, tetapi aku merasakan rindu.

Dia bilang, “Kenapa, kangen yach? Kangen sama apanya? Gimana kalau nanti sore kita ke tempat biasa. Kamu tunggu di Halte bis pelayaran, soalnya aku ngga bawa celana renang.”

“Memangnya kita mau berenang?” tanyaku.

Dia tertawa, tawanya yang sangat aku suka.

“Ya, engga sich. Nanti kamu ngga usah ke pool, langsung aja ke sana.”

“Aku ngga tahu tempatnya, gimana kalau besok aja sepulang kerja?” usulku.

“Oke dech!”

Hari Selasa, tanggal 11 Januari 2000, kami pergi naik taksi tempat dia bekerja dari Singgalang. Sepanjang jalan dia melirikku tanpa bisa berbuat apa-apa karena takut ketahuan sama sopir taksi. Lalu tanganku menyusup ke belakang badannya dan dia memegang tanganku dari samping. Sesampainya disana, dia memesan kamar bilas keluarga VIP II. Kemudian kami naik ke lantai dua. Kamarnya terletak di sudut yang sepi. Kami masuk ke kamar itu dan dia langsung membuka bajunya.

“Saya mandi dulu.” katanya.

Dengan tubuh telanjang, dia masuk ke kamar mandi, lalu mandi di shower tanpa menutup pintu. Aku yang telah telanjang, melihat dia mandi sambil duduk. Dia tersenyum dan menarikku kepelukannya. Sambil berdiri dan disertai guyuran air hangat, dia menciumku. Lidahnya terus bermain dirongga mulutku. Aku memegang lehernya sambil membelai rambutnya. Aku berjongkok dan mulai menghisap senjatanya yang menurutku besar dan panjang serta berbentuk bagus.

“Ahh… ooohh… Ndi trus yang kuaaat,” desahannya semakin keras.

Aku mengulum dan menggerakkannya keluar-masuk. Lalu dia mulai menghisap penisku dan meyuruhku untuk berbalik membelakanginya. Aku tahu apa yang dia inginkan, karena kami pernah melakukannya. Dia merupakan orang yang pertama memasuki tubuhku. Tangannya mulai membelai pantatku dan menyibakkannya. Tidak lama, dia mulai menjilati anusku.

“Oh… ahh… ssst… To… enak…” desahku keenakan.

“Masukin yach Ndi?”

Aku menganggukkan kepala. Dia mulai memasukkan penisnya ke dalam anusku.

“Akh… To… pelan-pelan, sakiiit…”

“Iya… nanti juga enak.” katanya menenangkanku.

Kami melakukanya sambil berdiri. Lalu dia membimbingku keluar dari kamar mandi sambil menciumi leher dan telingaku, sementara penisnya masih tetap menancap di anusku. Dia duduk sambil bersandar di dinding dan penisnya yang besar mengacung ke atas. Aku disuruh menungging, sementara dia menjilati anusku.

“Oh… ya… enak To, terusin To…” desahku ketika lidahnya masuk ke anusku.

Lalu dia memegang pinggangku dan mendudukkan pantatku di atas penisnya.

“Oh… akh… ssshh… To sakiiiit… enaaaak… ahhh…” desahku ketika kepala penisnya mulai masuk perlahan-lahan.

“Sabar yach sayaang… ohhh… saya pelan-pelan… mmmh… yach…” sambil terus menciumi punggungku.

“Ahhh… pantatmu enak banget sayaaang… sempiiit… trus Ndi, yang kuaaat… oooh… ya.”

Mendengar desahannya yang kuat, aku semakin cepat menaik-turunkan pantatku, walaupun terasa sakit tapi enak. Lalu aku membalikkan badan dan kini kami berhadapan, sambil duduk kami terus bergoyang.

Dia mencium bibirku serta mempermainkan lidahnya di dalam mulutku. Semua lubang yang ada di diriku disumpal miliknya.

“Aaakkh… mmhhh…” desahku ketika dia mulai menghisap puting dadaku.

Aku mulai membelai rambutnya, sementara mataku terpejam karena sensasi yang luar biasa yang diberikan Anto kepadaku.

Aku bertanya kepadanya, “To, kamu sayangkan sama saya?” dia menganggukan kepala.

Setelah puas dengan gaya itu, dia menidurkanku, lalu kakiku diangkat kebahunya dan dia mulai memasukkan penisnya.

“Oh… yeaaahh… mmhhh… enak Ndi?”

“Mmhh… yach.” kataku.

Beberapa menit kemudian, goyangan kami semakin cepat.

“Ndiii… saya kelluarin di pantat kamu ya?”

“Aaahhh… ya, ya.” jawabku.

“Ooohhh… yaaa… Ndiii… enaaak…” gerakannya semakin cepat dan aku mulai mengocok penisku agar kami keluar bersamaan.

“Aku mau keluaaar… aaahhh…” teriaknya diiringi kemudian dengan, “Croott… creet… croot.”

Spermanya keluar di dalam pantatku. Dia tersenyum.

“Kamu mau keluar Ndi?” tanyanya kemudian.

“Tooo… aku juga mau keluar akhhh… ohhh… aku mengocokkan penisku dengan cepat.

Dia mengocok penisku dengan tangannya.



“Aaahh… ooohhh… Toooo… creeet… crooot…” aku keluarkan seluruh spermaku hingga muncrat kewajahku.

Kami berciuman lagi sebagai rasa terima kasih.

Ketika melihat jam tangannya, Anto mengatakan, “Ndi, kita main 1 jam loch.”

Kami masuk jam 18:00, dan kini sudah jam 19:00. Aku tersenyum manis.

“Kamu mau berenang?” tanyanya.

Aku menggelengkan kepala. Dia duduk bersandar dan aku tiduran di pangkuannya. Aku mengelus jenggotnya yang sangat aku suka dan Anto membelai celana dalam yang kupakai. Aku melihat kemaluannya sudah berdiri lagi. Dia menundukkan wajahnya ke selangkanganku dan menghisap penisku. Aku pun tidak tinggal diam dan mulai menghisap penisnya, kami melakukannya dalam posisi 69, dia di atas dan aku di bawah. Kami melakukan hubungan sex lagi untuk kedua kalinya di kamar mandi di bawah guyuran air hangat dari shower.

Pukul 20:00, kami pulang dan dia mengantarku sampai ke depan Atrium Senen. Padahal rumahnya di jalan yang namanya seperti nama burung besar yang letaknya dekat sebuah Hotel sebelum pelayaran Senen. Hubungan kami tetap berlanjut hingga dia menghindar dariku yang tidak kuketahui apa sebabnya. Kami melakukannya terakhir kali tanggal 11 Februari 2000 di gelanggang renang. Mungkin karena dia tahu bahwa aku keponakan temannya atau ada hal lain yang aku tidak ketahui. Tetapi sekitar bulan September, kami bertemu di kantornya dan aku sengaja menghindarinya, lalu aku telpon dia.

Dia bilang, “Kamu sombong, kok menghindar begitu?”

“Kamunya yang begitu, kenapa kamu menghindar dari saya?” tanyaku.

“Aku kan lagi sibuk, banyak kerjaan.” katanya.


TAMMAT

* Cerita Asik 23 PAK ARMAN BAPAK KOST KU

PAK ARMAN BAPAK KOST KU
by : Anto



Sore itu cuaca begitu buruk, langit
tampak gelap dengan gerimis yang
mulai turun. Aku sendiri bete banget
di kost-kost-an, sepi. Pak Arman
bapak kostku masih di kantor, ibu
kost ngurusin bisnisnya di luar kota
dan kedua anak ibu kost kuliah di
Jakarta, itu pula yang mungkin
menjadi alasan mereka mau
'menampung' aku, 'dari pada sepi'.

Yang kost di rumah ini memang
hanya aku sendiri, jadi sudah seperti
keluarga. Aku sendiri masih duduk di
bangku SMA kelas 2. Tapi karena
kebetulan jarak sekolahku lumayan
jauh, aku disuruh kost. Pak Arman
sendiri adalah kenalan Bapakku.

"Bi, masak apa hari ini..?" dari pada
menganggur, kuhampiri Bi Onah di
dapur.
"Eh, Den Anto, biasa Den.. gulai
kambing kesukaannya Tuan Arman."
"Wiih asiik Anto juga suka! Apalagi
kalo Bibi yang masak, hmm.. enggak
ada duanya Bi!"
Si Bibi hanya tersenyum.
"Anto bantuin ya?"
"Aduh enggak usah, Den! Inikan
kerjaannya cewek.."
"Kata siapa, Bi. Sekarang mah udah
berubah, enggak ada lagi perbedaan
kayak gitu. 

Buktinya direstoran-
restoran terkenal kebanyakan tukang
masaknya cowok!"
"Tapi, Den.."
"Udah, enggak apa-apa Bi, dari pada
bengong. Sekarang mana yang bisa
Anto bantu?"

Akhirnya si Bibi nyerah juga. Aku
bantuin apa saja sebisaku, motong-
motong daging, menggoreng bumbu,
wah ternyata asyik juga.

"Ada koki baru, nih?" tiba-tiba
terdengar suara berat di belakangku,
aku menengok, ternyata Pak Arman.
"Eh, Bapak..!" aku jadi malu sendiri,
"Dari pada bengong nih Pak, apalagi
tadi bete banget!"

Pak Arman hanya tersenyum.
"Pakaian Bapak kok basah semua?"
"Tadi mobilnya mogok di tengah
jalan, ya udah mau enggak mau
kudu hujan-hujanan.."

Aku terus menatap tubuh Pak Arman.
Dalam pakaian basah seperti itu jelas
sekali terlihat bentuk tubuhnya. 

Di usia kepala empat, Pak Arman
memang masih kelihatan gagah dan
kekar. Aku sedikit berdesir melihat
tonjolan besar di balik celananya.
"Mandi dulu Tuan, nanti masuk
angin.." si Bibi tiba-tiba menyela dari
belakang.

"Iya Pak, lagian Ibu lagi enggak ada,
entar siapa yang ngerokin!"
"Kan ada kamu!" Pak Arman tertawa
mendengar gurauanku, tetapi
kemudian ia segera berlalu ke kamar
mandi.

Tak lama terdengar suara guyuran
air. Tiba-tiba aku membayangkan
bagaimana keadaan Pak Arman
waktu bugil, memikirkan itu
kemaluanku langsung mengeras.

Malam itu sama sekali aku tidak
dapat tidur. Entah kenapa tubuh Pak
Arman yang basah terus terbayang di
mataku. Busyet! Kenapa jadi begini?
Untung acara TV malam itu lumayan
bagus, jadi aku dapat sedikit
mengesampingkannya.

"Belum ngantuk, To?"
Aduh, suara itu lagi.
"Eh, belum Pak..!"
Aku sedikit gerogi ketika Pak Arman
duduk di pinggirku, padahal dulu-dulu
tidak seperti ini.

"Acaranya bagus?" Pak Arman
menatapku, oh Tuhan matanya
begitu teduh.
"Lumayan Pak, buat nyepetin mata
yang enggak bisa di ajak kompromi.."
Sesaat suasana hening.

"Bapak juga kok enggak tidur..?"
kucoba memecahkan suasana,
"Kangen Ibu, ya?"
Pak Arman tersenyum.
"Saya sudah biasa di tinggal istri, To.."
"Sorry, Pak.."

Aku jadi merasa tidak enak sendiri.
Malam semakin larut dan udara
makin terasa dingin, dan kami masih
asyik nonton TV, walaupun pikiran
saya tidak tertuju kesana.

"To, Kepala saya agak pusing.., mau
enggak kamu pijitin kepala saya..?"
Aduh saya benar-benar tidak tahu
harus berbuat seperti apa. Pak Arman
terus menatapku.

"I.., iya Pak..!" ujarku sedikit gugup.
Aku kemudian berdiri.

"Mau kemana?"
"Mijitin kepala Bapak.."
"Udah kamu duduk disitu aja.."
Tanganku ditariknya kembali ke kursi
panjang.

Sungguh aku tak mengerti. Aku
kemudian duduk kembali dan tiba-
tiba Pak Arman merebahkan
kepalanya di pangkuanku. Sungguh
saat itu aku tidak dapat
mengendalikan lagi denyut
jantungku.

"Di sini, To.." Pak Arman memegang
tanganku dan kemudian diletakkan di
keningnya.

Untuk sesaat aku terpaku dan
kemudian dengan sedikit gemetar
memijat keningnya. Kulihat Pak
Arman memejamkan matanya.

Dengan takut dan ragu-ragu
kuperhatikan wajahnya. Sungguh
sangat sempurna. Alis yang rimbun,
hidung yang bangir, kumis tebal dan
kaku, dagu yang terbelah.., oh Tuhan
aku nyaris tak dapat mengendalikan
diri.

"Oh, Nikmat sekali, To.." Pak Arman
mendesaah perlahan.
"Aku jadi ngantuk, boleh tidur disini
dulu enggak? Entar kalau acaranya
selesai, bangunkan ya!"
"Ya, Pak.."

Entah mimpi apa aku semalam bisa
berduaan seperti ini dengan Pak
Arman. Aku tidak akan menyia-
nyiakannya. Tetapi kulihat Pak Arman
tidak juga memejamkan matanya.
"Kenapa, Pak? Katanya mau tidur?"
Pak Arman terus menatapku, aku
jadi salah tingkah.

"Aku teringat, Diko. Sudah 5 bulan
aku tidak ketemu dengannya."
"Dia kan sedang kuliah, Pak.."
"Waktu kecil dia selalu kupangku
seperti ini sambil kubelai rambutnya.
Tak terasa anak-anak begitu cepat
besar."
Kulihat mata Pak Arman
menerawang.

"Waktu mereka masih ada, aku tak
begitu merasa kesepian seperti
sekarang, tapi ya begitulah tugas
orang tua, memang cuma
membesarkan dan mendidik anak,
setelah itu.. Aku bersyukur ketika
kemudian kamu kost disini,
setidaknya rumah ini tidak begitu
sepi lagi."
www.asikb.blogspot.com
Aku begitu terharu mendengar kata-
kata Pak Arman, begitu menyentuh.
Dan tak terasa tanganku bukan lagi
memijat, tapi telah membelai rambut
Pak Arman. Pak Arman
memejamkan matanya sepertinya ia
menikmati semuanya.

"Semua orang tua mungkin pernah
merasakan hal yang sama seperti
Bapak.." aku mencoba menghibur,
"Dan kalau Bapak mau, saya siap
untuk menjadi teman bicara Bapak,
kapan saja, asal Bapak tidak merasa
kesepian.."
Pak Arman membuka matanya.
Dipegangnya tanganku.
"Sungguh..?"

Aku menganggukan kepalaku. Pak
Arman tersenyum, kemudian ia
mencium tanganku.
"Thanks.." katanya manis.
Ya Tuhan, dadaku seakan mau
meledak merasakan hangatnya bibir
 
Pak Arman disertai gesekan
kumisnya di tanganku. Aku bingung
harus berbuat apa. Pak Arman
tersenyum melihatku, kemudian ia
meletakan tanganku di pipinya.
Sejenak aku terpaku. 

Perlahan kemudian kubelai pipinya yang kasar.
Pak Arman memejamkan matanya.
Aku terus membelainya, merasakan
jambangnya yang belum dicukur.
Aku penasaran sekali dengan
kumisnya.

"Kumis Bapak bagus.."
"Kamu suka..?"
"Ya, kelihatannya gagah.."
Dengan ragu kubelai kumis Pak
Arman. Ia tetap diam seperti sedang
menikmati semuanya. 

Bibirnya tampak sedikit merekah, begitu indah
dan merangsang, serasi sekali
dengan kumisnya yang tebal. Aku
sudah tak dapat menahan diri lagi.
Perlahan kubelai bibir itu dengan
gemetar.

Sebenarnya aku takut dianggap tidak
sopan, tapi kulihat Pak Arman tidak
ada reaksi apa-apa. Aku semakin
berani. 

Pak Arman kulihat semakin
membuka bibirnya dan tanpa
kuduga, tiba-tiba ia mencium jariku
dan kemudian menghisapnya dengan
perlahan. Aku begitu terpana.
Matanya terbuka, ia tersenyum manis
kemudian bangkit dari pangkuanku.
Dipegangnya bahuku.

"Aku ingin tidur bersama kamu.."
Direbahkannya tubuhku di kursi yang
sempit. Ia kemudian ikut tidur sambil
memeluk tubuhku. 

Aku teramat merasakan kepadatan tubuhnya
yang membuatku semakin nafsu. Ia
membelai rambutku. Aku tatap
matanya, ia tersenyum, didekatkan
kepalanya dan tiba-tiba ia mencium
bibirku. 

Lembuut sekali. Aku
memejamkan mata meresapi sensasi
yang begitu indah. Ketika kubuka
mataku ia sedang menatap wajahku,
kemudian dielusnya pipiku, alisku,
bibirku, dan kemudian ia menciumku
lagi lebih lama. 

Bibirnya terasa manis,
kurasakan lidahnya menelusup di
rongga mulutku. Aku merasakan
nikmat yang amat sangat, apalagi
kumisnya begitu kasar. Kucengkeram
punggungnya dengan kuat, nafasku
semakin memburu.

Pak Arman benar-benar ahli, aku
yang baru pertama kali
mengalaminya seperti orang meriang.
Pak Arman tiba-tiba melepaskan
ciumannya, ia menatapku dengan
mesra.

"Kamu menyukainya, To..?"
Ya ampun.., kenapa dia harus
bertanya seperti itu, sementara
nafsuku semakin membuncah. 

Aku menganggukan kepala seraya
membelai lehernya.
"Ini yang pertama, Pak.."
Aku mendekatkan lagi bibirku dan
dengan ganas kembali kulumat bibir
jantannya. Kutindih tubuhnya dengan
nafsu.

"Jangan disini, To.."
Aku menghentikan aksiku. Pak
Arman bangkit. Dimatikannya TV,
kemudian ia mencium keningku
sebelum membopongku ke
kamarnya. Aku terpekik sejenak, tapi
langsung kupeluk leher Pak Arman
sambil kucium dadanya. Pak Arman
tertawa kecil.

Sesampainya di kamar, dengan
perlahan direbahkannya tubuhku.
Sambil menindihku Pak Arman terus
menatap mataku dengan mesra, aku
sampai tersipu. Kupeluk tubuhnya
sambil kugigit lehernya, Pak Arman
sampai terpekik.

"Wah, kamu mirip drakula.." Pak
Arman terus menggodaku.
"Tapi drakula amatir.." balasku.
Pak arman tersenyum. Dipijatnya
hidungku.

"Nih kalau yang profesional!"

Tiba-tiba Pak Arman telah mencium
leherku dengan gigitan-gigitan
kecilnya. Aku terlonjak, geli tapi
nikmat, apalagi kumisnya terasa
sekali menusuk-nusuk leherku.
 
Aku mengerang sambil menjambak
rambutnya. Aku benar-benar tak
kuat. Kakiku langsung kubelitkan di
tubuhnya sambil menggeliat-geliat
dengan liar. 

Pak Arman semakin
bernafsu. Kini ia telah membuka
bajuku, dijilatinya dadaku. Aku
menjerit, benar-benar sensasi baru
yang teramat indah. 

Aku semakin mempererat pelukanku, apalagi saat
Pak Arman mengulum puting susuku,
tubuhku sampai melengkung
menahan kenikmatannya.
"Pak Arman, oohh.."

Pak Arman seperti tidak perduli
dengan keadaanku, ia semakin buas.
Tak lama kemudian tubuhku telah
telanjang bulat, dan ia benar-benar
membuatku tak berkutik. 

Ketika ia membuka bajunya, aku benar-benar
terpana melihat tubuhnya yang
masih berotot dengan bulu-bulu yang
membelukar, membuatku semakin
tak kuat, apalagi saat ia membuka
celana dalamnya, oh.., batang
kejantanannya begitu besar dan
kaku. 

Aku sampai ngeri sendiri.
Ia kembali menghampiriku dengan
nafasnya yang memburu. Aku
menyambutnya, kupeluk tubuhnya
yang besar. Kubelai punggungnya
sambil kuresapi ciumannya.
 
Tangannya begitu nakal, dibelainya
pahaku secara perlahan, dan
kemudian bergeser ke arah batang
kemaluanku yang tidak begitu besar.
 
Aku pun tidak mau kalah, kuremas
kejantanannya yang seperti
pentungan hansip, Pak Arman
mendesah. Aku kemudian
melepaskan diri dari pelukannya.
Kuciumi batang kejantanan yang
begitu gagah, desahan Pak Arman
makin keras. 

Di ujung kejantanannya
yang hitam terlihat mulai keluar
cairan bening, aku langsung
menjilatinya, terasa asin tapi nikmat.
Setelah itu langsung kukulum
batangnya.

"Ohh.. nikmat sekali, To! Terus, To!"
Pak Arman mencengkram kepalaku.
Aku semakin bersemangat, terus
kukulum kejantanan itu sambil
kumainkan lidahku di ujungnya, dan
terkadang kugigit pelan karena
gemas. 

Kemaluan Pak Arman begitu
perkasa. Pak Arman terus
mencengkram kepalaku. Bosan
dengan itu kuciumi lipatan paha Pak
Arman, ooh.. terasa sekali bau
kelelakiannya. 
 
Lama juga aku bermain di situ, kemudian pelirnya
kucium dan kukulum, sementara
tanganku bermain di anusnya yang
dipenuhi bulu. Aku mencoba
memasukkan telunjukku, terasa sulit,
tapi lama-lama bisa juga.
"Terus, to.. oh.., nikmat sekali.." Pak
Arman semakin menggelinjang.

Kemudian kubalikkan tubuh Pak
Arman. Kubelai pantatnya yang
gempal, kucium dan terkadang
kugigit. Oh.. nikmat sekali. Perlahan
kubuka bongkahan pantatnya,
kemudian kusibakkan bulu-bulunya
yang lebat, terlihat anusnya yang
mungil kemerahan seakan
menantangku untuk mengulumnya.
 
Langsung saja kujilati anusnya,
desahan Pak Arman terdengar
semakin keras, apalagi saat lidahku
masuk ke lubangnya dan kemudian
menghisapnya. Anusnya terasa
harum sekali, sungguh aku sangat
menyukainya.
"Oh.., Anton, Bapak enggak kuat
lagi.."

Tiba-tiba Pak Arman membalikkan
tubuhnya, dan kemudian
membantingku ke kasur. Diciumnya
leherku dengan ganas.
"Boleh, Bapak ngentot kamu..?" ia
menatapku dengan harap.

Aku menganggukan kepalaku. Pak
Arman langsung berdiri, kemudian ia
menundukkan kepalanya di
selangkanganku, kakiku ditariknya
dan kemudian dijilatinya anusku. 

OhTuhan nikmat sekali, apalagi
kumisnya kuat sekali menggesek-
gesek kulitku.

Tak lama ia mengangkat kakiku,
kemudian diletakkannya di
pundaknya, batang kejantanannya
terasa sekali menyentuh anusku.
 
Sesaat aku merasa ngeri
membayangkan batang kejantanan
Pak Arman yang besar membobol
anusku yang kecil, tapi nafsu telah
mengalahkan segalanya. Pak Arman
sendiri tampaknya kesulitan
memasukkan kejantanannya. 

Ia kemudian memakai ludahnya untuk
dijadikan pelumas, tak lama batang
itu mulai masuk, aku menjerit
kesakitan.
"Tahan dulu Sayang, Nanti juga tidak
sakit.."

Aku menganggukan kepalaku.
Batang kejantanan Pak Arman makin
masuk dan aku makin kesakitan. Pak
Arman kemudian menciumbibirku
sambil terus memasukkan
kemaluannya. 

Ketika semuanya telah
masuk, jeritanku semakin keras.
Kemudian kugigit lehernya. Aku
menangis kesakitan. Pak Arman diam
sejenak, mencium bibirku, menjilati
leherku dan mengulum telingaku.
Sejenak aku melupakan rasa sakit
itu. 
Ketika aku tidak menjerit lagi, ia
mulai menggerakan batang
kejantanannya. Kembali aku
menangis kesakitan.
"Sabar Sayang.., nanti juga kau akan
merasakan nikmat.." 

Pak Arman berusaha menghiburku sambil terus
memberiku rangsangan-rangsangan.
Memang benar apa yang dikatakan
Pak Arman, lama-lama aku
merasakan nikmat juga. 

Perlahan kuimbangi gerakan Pak Arman
sambil kubelai punggungnya yang
liat. Keringat Pak Arman tampak
sudah membanjir.

"Terus Pak.., terus..!" Aku semakin
merasa keenakan.
Kupeluk tubuh Pak Arman makin
erat, kucium ketiaknya dan kugigit
lengannya.

"Oh.., anusmu nikmat sekali,
Sayang.."

Gerakan Pak Arman semakin liar,
digigitnya leher dan dadaku hingga
membekaskan noda merah. Terasa
sekali batang kejantanannya dengan
kuat menyodok-nyodok anusku.
"Gimana Sayang.., apakah masih
merasa sakit..?"
"Enggak Pak, nikmat sekali.."

Kugigit puting Pak Arman yang
berwarna kemerahan. Kusedot-sedot
hingga gerakan Pak Arman semakin
cepat. Pantatnya yang gempal
kembali kubelai, kuremas dan kubelai
bulu kemaluannya sambil
memainkan anusnya. 

Sesekali jariku
menusuk-nusuk anusnya.
"Aku tak kuat lagi Anto.."
Tubuh Pak Arman tampak gemetar,
kemudian ia memelukku dengan erat
sambil menggigit dadaku.

Dan kurasakan denyutan keras di anusku
disertai semburan hangat.

Ketika semuanya reda, Pak Arman
tetap memelukku, kubelai dan
kuseka keringat di wajahnya.
Kemudian kembali kubelai
rambutnya. Pak Arman memejamkan
matanya.
"Terima kasih Sayang, aku puas
sekali..!"

Diremasnya pundakku tanpa
membuka matanya.
"Kamu ingin juga dikeluarkan..?" tiba-
tiba Pak Armani membuka matanya
dan menatapku.

Aku menggelengkan kepala, "Enggak
usah sekarang, Pak.." aku tersenyum,
"Aku hanya ingin membahagiakan
Bapak.."

Pak Arman kemudian mencium
pipiku dengan mesra.
"Lebih menyenangkan memeluk
Bapak seperti ini.."

Kembali kurengkuh tubuh itu dengan
kuat, kubelai sampai kemudian Pak
Arman tidur di dadaku. Oh.., bahagia
sekali rasanya hatiku, dan ini bukan
mimpi.

Kami terus melakukan hal itu sampai
saya lulus dari SMA, dan kemudian
kuliah di luar kota. Sejak itulah kami
jarang bertemu, tapi saya akan terus
mengingat Pak Arman, karena saya
amat mencintainya. 

Dan entah mengapa sejak saat itu saya lebih
bernafsu dengan melihat tubuh
cowok yang lebih dewasa atau
bapak-bapak. Untuk teman-teman
yang ingin menjadi sahabat saya,
dapat menghubungi saya.

TAMAT

Minggu, 17 Februari 2013

* Cerita Asik 22 BERCINTA DENGAN BRIMOB

BERCINTA DENGAN BRIMOB
by : inidiky

Aku kenal Bripka Gagah waktu tugas lap di pbrik CPO di Kalimantan thn lalu,Bripka Gagah adalah danru dr satuan pengaman dr brimob yg ditugaskn di pbrik tmpat tgsku,aku msh blm bs lupa.. prtma kali dtg ke pbrik,dia yg mngjinkan aku msk area ,kana memang sudah peraturan kalo msk pabrik hrs pake APD n idcard..krna aku bru dtg,jd blm punya kelengkapan itu..prtma kali liat dia.. trus trg aku lsg naksir..ah dasar gay..ga bs liat pria macho,..

oh ya..namaku Bagus ST..28th,aku kerja di sbuah kontraktor..tgsku ke pbrik dlm rgka menyelesaikan complain dr owner terhadap gdung yg pernah kami buat..mgkin org ga nyangka dgn orientasi sex ku yg menyimpang,dibalik wajah tmpan dan tubuh atletisku,aku gay..kmbali ke Bripka Gagah..dia seorg perwira dgn badan tegap,bahkan tampak gagah dgn seragam ketatnya,menonjolkan otot dada dan lengan besarnya..cukup ramah dgn sedikit senyum dr bibir merah di wajah tampannya..kulitnya yg cukup terang membuat bekas cukuran jambangnya tampak jelas,aku lirik badge namanya..Gagah Adamas..nama yg sangat jantan,sesuai dgn orgnya..pikirku,tapi ksibukanku bertemu dgn GM bikin aku lupa tentang dia hr itu..

Beberapa hr kemudian,pas istirahat ga sengaja kami ktmu di kantin..wktu itu dia pake kaos ketat seragamnya dipadu dgn celana coklat..tubuh kekarnya smakin tmpak jelas..awalnya kami sekedar basa basi brlanjut dgn obrolan..kami knalan dan slg crita brbgai hal..mulai dr asal,sekolah..smpai status kmi yg sama2 lajang..mknya dia ga mau aku pggil pak..cukup mas saja,ktnya..krna trnyata usia kami cuma trpaut 2 th diatasku..wah..cukup mnyenangkan bgku,wlpun aku senang skali bs ngbrol dekat dgn dia,smbil curi2 pndang ke tnjolan dadanya..aku ga brani brfikir macam2..aku sng bs knal lbh jauh ttg dia..

”Gus..badan kamu ok juga,suka ngegym ya?” ,
”Ah..kdg2 aja mas..kalo smpet..”jwbku ,
wah..sungguh ga nyangka dia bkl brkata bgt,memang kaos polo yg aku pakai saat itu cukup memamerkan tonjolan otot dada dan lenganku yg lumayan gede.,wlpun ga sgde Bripka Gagah..agak bikin pnsaran neh.
mas tuh yg udh gde,ngegym juga kan?”tnyaku..
”Ya neh..ga tau lg pgn serius aja..biar ga kalah ma anggota..kan km liat sdri si Hendri sama Rizal,mereka jg rajin ngegym lho..masa anggota lbh gde dr komandan,mana bs nurut,bs berabe urusannya..ha ha!”jwbnya smbil brkelakar..
akupun trtawa..memang rata2 anggota Brimob punya tbuh yg nyaris smpurna..tinggi dan kekar..wah..ga kbyang serunya dihajar mereka..kalo saja saat itu aku brdiri..pasti tnjolan di celanaku jelas sekali trlihat..krna skrg kontolku sdh sgt tegang krna imaginasi liarku..sial..ga lama kemudian wkt istrhat hmpir hbs,aku prmisi dluan..dan sungguh ga nyangka lg..dia minta no hpku..dia blg siapa th kpan2 bs ngegym brg..wah..dgn senang hati aku ksh..
Hari minggu jam 10 lbh,aku msh di mess,bru sj slsai mandi..ada sms masuk..trnyata bnr dr Bripka Gagah..
”lg ngpain org ganteng..ngegym brg mau ga?,aku trsenyum lebar baca sms drnya..
”boleh,jemput ya?”jwbku smgat..

ga smpai 15mnt udh trdgar klakson mtor tiger merahnya..kmi lsg mlaju cepat ke t4 fitnes yg trnyata ga jauh dr mess..1jam fitnes ckup mmbuat kmi bsh kuyup krna keringat.. Setelah latihan dada,bcep,trcep kmi ptskan untk pulang..mmg t4 fitnes km cuma ada 1 kamar mandi,maklum..di daerah..jd trpaksa kmi melaju pulang,dlm pjlnan..
mas Gagah mengajakku ke messnya..aku blg mandi dlu..tp dia mmksa..toh mandi di mess dia kan bisa..aku mmg sdh bw bju ganti..
smpai di mess tmpak sepi..aku bru 2x ke mess krywan tempat dia tinggal…tempatnya trletak plg blkg..stlah lapangan tennis..dibelakang kamar ganti,aku ga sngka msh ada bngunan di blkg lap tenis,dlu awal dtg aku srg tenis brg pak GM..trnyata disitu msh ada 5 kamar..dan mas Ggh menempatii kamar yg plg ujung,aku dipersilahkan msuk..dan dia ttp pntu kmrnya..cukup besar..kira2 4×5 m +km di dlm..cukup rapi..1bh king size bed dgn spei abu2,tv plasma 20″ di dpn t4 tdur,meja kerja di smping kanan brsebelahan dgn lemari,kaca cermin besar di seb kiri,kulkas 1pintu dismping pintu km,brsebelahan dgn tv,dan sebuah rak yg penuh dgn produk perawatan bdan khusus pria,
wah..ga nyangka,pak komandan trnyata rajin mrwat diri..ga bda ma aku sih..tp apa dia juga..ah..aku buang2 jauh pikiran kotorku..
”knapa Gus,kok ky org bingung?”tegurnya..
”ah..eh..nggak papa mas”..mas Gagah kyk sibuk mencari2 sesuatu di rak,
”nyari apa mas?”..
”film..aku bru pinjem film dr Rizal,ktnya bgus..ya smbil ngeringin bdan sblm mndi.,jwbnya,
ga bbrapa lma
“ah..ini dia!..ga brapa lma dia psg di dvd player..lalu bangkit..ditanggalkannya kaos lembab yg mbungkus tbuh kekarnya..ah sungguh..pemandangan indah..dia berbalik menhdap cermin smbil brgaya spt binaraga..wow..otot2 yg indah..dada yg kekar bahu yg kokoh dan lengan yg kuat..pujiku..dia menoleh ke arahku..
”gimana gus?mantap kan?”mantap bgt mas”pujiku..
aku alihkan pndangnku ke cover film yg sdg diptr.sblm aku terangsang lg..ah..film thailand trnyata..mas gagah duduk di sisi bed..trus geser ke blkg mcri sndaran..
”kok brdiri sj,.sini duduk”aku duduk di smpingnya..
film mulai brjalan..trnyata film semi..bbrapa x ada adegan sex..mskipun antara cwe n cwo..cukup bikin nafasku mmburu..
”kaosmu bsah gus..cpot aja..kalo ga ntar bs panuan km” kt mas Gagah
“ga papa mas?”
” ga papa lah”jwbnya..
aku buka kaosku..dia trsenyum kecil memandang tbuhku,lalu pndangan mtanya brpindah ke arah tv..tapi sungguh diluar dugaan..ga nyangka..

trnyata ada adegan homosex dlm film itu..prtma kali dlm hdupku mlhat adegan gay dlm film..cukup lama..aku mrskan ada yg mngganjal celanaku..trnyata aku sgt trngsang mlhat persenggamaan sejenis itu..nafasku mmburu..
”knapa gus,punyamu tegang ya?”kt mas Gagah
tiba2,aku gugup..malu ketauan terangsang…jstru saat adegan gay..
”maaf mas..”
”ga papa gus..mas juga kok”jwbnya pelan.,
aku menoleh kaget..dia trsenyum..aku msh bingung..tiba2 tngan kekarnya mulai meraba punggungku..aku kaget..tp berusaha tenang..tnpa reaksi..tgannya mnjalar smpai tengkukku..trun ke lenganku dan brhenti di dadaku yg cukup padat..aku menikmati ,aah..dia makin mendekat..aku merasakan kecupan mesra di punggungku..naik ke tengkuk..ada gigitan kcil disana..ntah..seperti msh tak pcya..bibir kami udh slg melumat..skrg kmi slg berhadapan….

Kedua tngan kekar kami slg peluk,raba..remas..2 pria kekar terbakar birahi menyala brguling di atas kasur..mas gagah mnindihku..menjilati leher..mndaratkan kcupan disana..trun ke dadaku..kdua pting susuku mjadi santapan nikmat lidahnya..perutku yg rata tak luput dr bibirnya..kmi mulai brkeringat lg krna intensitas gerakan liat kami..aku mengeram nikmat..sskali melihat wjah tmpannya yg skrg tengah buas melahap..menjilat dan mengulum kontol kudaku..tak pduli lg kpan dia melepas celanaku..bibir merahnya tmpak indh saat kntolku yg tegang perkasa memenuhinya..wajahnya pun tmpak merah dan basah penuh kringat,otot tbuhnya brkilat2 tmpak indah..aaggh…sial..aku smkin ga tahan krna sdtan bibirnya..aku angkat kplanya,kmi ciuman..dan kubawa bdannya ke kasur..dada indah yg kukagumi skrg tengah kunikmati,kujilat..remas..makin ke bwh..perut sixpact yg ditmbuhi blu halus aku jilati..dia mengeram dilanda kenikmatan,kupelorotkan celana dan cdnya..omg..kontol yg besar dia 4.5cm dan pnjang 20cm menjulang penuh urat disekitanya..dgn peler yg kokoh menyangga tmpak jantan..aku sgt menikmati saat dia menggelinjang saat aku mengulum pelan
..ah..nikmat bgt kontolnya..
bau khasnya mmbuat aku makin liar..

sprei mulai basah olh kringat kami br2..mas gagah bangkit..kami kmbali ciuman slg lumat..slg peluk..kmdian dia mdorong tbuhku ke meja..tbuhku menelungkup..aku th apa yg dia inginkan..ga brapa lama..aku mrsakan sesuatu gel yg dingin di pantatku..dan berikutnya..sesuatu yg sangat bsr susah payah menembusnya..aku meringis sakit saat kpalanya mulai masuk..n kmudian kontol kuda jntan itu tlh brsarang di anusku…sakit skali..aku bru prtama kali disodomi..tp aku ga akan pnh menolak jika seorang polisi brimob brtubuh kekar dan brwajah tmpan ini yg melakukannya..bhan aku memang ingin..bbrapa saat kmdian..dia mulai mggerakan maju mundur..mkin lma mkin cpt..ruangan itu pnh dgn erangan nikmat kami brdua..agh..agh..kayak mimpi aja..gerakan tbuhnya makin cpt..trasa mkin nikmat..tgan kekarnya memegang bahu kekar dan pinggangku ga lama dia melepas kntolnya..kmdian dia mmbalik tbuh kekarku spti sbuah buku,begitu mudah..diangkatnya pahaku dan dimasukkannya lg kontolnya kdlm pantat mntokku..tak ada lg rasa sakit..hanya nikmat yg ada..aku suka sekali xpresi wajahnya saat itu..matanya..bibirnya yg menyungging..dada nya yg makin tmpak kekar krna bsah olh kringat..tgan kiriku mbelai dadanya..smtara tgn knanku,mgocok kntolku yg tegang tak klh bsr drnya…

”aagh..enak bgt pantatmu Gus..”
“.aagh..sy mau keluar Gus..keluarin di dalam ya…”
”ya mas..ke..lua..rin aja..tp aku be..lum..ke lu..ar”jwbku terbata2 krna hntakan tbuhnya..
Croot..croot..pantatku trasa hngat dan bsah..
mas Gagah..menahan nafas n suaranya..kmdian brhnti..dia mgtur nafas..
”km blm keluar Gus?” posisi kntolnya msh di dlm pantatku..
“ganti aku yg fuck mas ya?”tnyaku setengah brani..
dia ga jwb..aku jd tkt..ga lama dia cabut kntolnya dan skrg dia nungging dismpingku
”ayo..giliranmu.”aku sgra bgkit dan kontolku yg udh sgt tegang kuarahkan ke pantatnya..
tdk brapa susah Tp lumayan smpit..aku dengar erangan ksakitan
“sakit mas?”
“ga papa,lnjut aja Gus,sy suka”jwbnya.

aku mulai mggoyang pantatnya..ah sempit juga..kntolku terasa dijepit nikmat,smbil kuraba2 punggung kekarnya..dan pantat sexy yg selama ini kukagumi kini sdg kunikmati.mas Gagah udh mulai mengerang keenakan sepertiku..aagh aagh..nikmat bgt mas..hentakan keras pinggulku membuat tubuhnya ikut mju mundur..meja pun ikut brderit derit krna lengan kekar yg brtumpu pdnya
”enak bgt Gus..ayo gus..trus..aagh..aagh”
aku makin liar memompa kontolku di pantatnya..makin cepat..kutengok ke cermin..sungguh pemandangan luar biasa..2 pria kekar dan tampan sdg slg sodomi..
”bn..tar gus..aku ganti po..sisi..”dia membalik bdan brbaring diatas meja..
kuangkat kdua kakinya dan dia menyambt dgn mmgang pahanya,kuarahkan lg rudal besar yg sdh tak sbr menuju sarangnya..lbh mudah skrg..aku bisa lbh leluasa diatas tbuhnya..kdua lgan mas Gagah meraba rba punggungku..dan trun ke pntatku..gerakannya spti brkata..
”ayo gus,masukkan lbh dalam lg..ayo,”

kunikmati lehernya..dada kami brsntuhan..basah kuyup..ga brapa lama..aku dgr erangannya smbl mnhan nafas,lalu aku rasakan cairan hangat di perutku..trnyata mas gagah keluar lg..oh..dia sgt menikmati prmainan ini..aku angkat bdanku dan posisiku skrg berdiri..kntolku msh saja keras brsarang di pantatnya..aku msh blm bisa pcya..bisa menikmati tubuh indah seorang Bripka Gagah..

Di dinding itu tmpak foto pria tmpan brseragam lngkap dgn senapan di tgn..pria itu yg skrg sdg kuentot dgn sgt buas..grkanku mkin kncang mmpa pntatnya n croot..croot..croot..crot..ntar brapa byk..tak trhitung lg..tmpahlah smua kbhagianku skrg..bgt byk..bgt nikmat..spti tak pnh hbs knikmatan itu..aku mengatur nafas..kubaringkan tbhku di atas tbuhnya..
”gila..dahsyat bgt km Gus..ga sia2 usahaku..bru kali ini aku kalah smpai 2x..nikmat bgt”

oh..trnyata smua ini sngaja untk memancingku..tp aku senang..aku trsenyum puas..kucium bibirnya sbg tanda trma ksh..aku bangkit dan kucabut kntolku yg mulai lemas..mas gagah bgkit..dia mmlukku dr blkg..mesra..jari2nya yg besar meremas dada bidangku,kami trsenyum ke cermin..
”mandi yuk”..
”bntar..kapan kt maen lg..?”ktnya brbisik
“aku suka permainanmu,lain kali ajak Rizal ya.dia pasti ketagihan dientot kontolmu..”
hah.,aku cukup kaget mendengarnya..jadi..
”ya,Rizal partnerku..setelah semua anggota kucoba..cuma dia yg paling hot..tp msh kalah sm kamu Gus.”
”jadi anggota mas?”
“iya,mrka smua homo,bahkan Hendri walaupun udh branak istri masih suka difuck,.bahkan kami be5 prnah menggilir pantatnya..ga heran juga liat bpak itu suka difuck..trnyata nikmat bgt..”
”omg..trnyta aku sdg brada di surga ..rasanya ga percaya..tp ini trjadi..serdadu2 yg nmpak garang trnyata juga doyan dientot..ha ha..aku trsenyum..aku yakin mlm jg ikut trsenyum.pasti akan banyak lg pengalaman seru dgn serdadu2 itu..Rizal.. Hendri..im..cumming” dalam hati ku menjawab.www.asikb.blogspot.com

Sabtu, 01 Desember 2012

* Cerita Asik 21. BADAI MEMBAWA NIKMAT DIANA

BADAI MEMBAWA NIKMAT DIANA



11666_studio_6.jpgDiana pulang kerja jalan kaki, jalanan cukup sepi, sementara suara guruh sesekali terdengar. Awan terlihat mendung dilangit malam itu.
Cewek yang tingginya sekitar 170 cm, langsing, kakinya juga jenjang banget (Diana waktu itu pake rok yg rada mini) mempercepat jalannya.
Pukul 20:00 jalanan diluar rumah Diana, sepi jarang ada mobil yang lewat. Penduduk kota sudah tahu akan ada badai besar malam itu. Kelima berandal yang bertubuh kekar itu mengendap-endap memasuki pekarangan rumah. Mereka mau membalas cewek bertampang melankolis itu yang memergoki mereka mencuri minuman keras tadi,dengan melaporkan satpam. Mereka berencana berpesta memperkosa cewek itu habis-habisan sebagai balasannya.

“Sssstttt…..hati-hati jangan berisik…..ayo sini….” Bisik Emilo sambil memberi aba-aba untuk segera maju bersembunyi dikebun rumah Diana yang penuh semak-semak.
Sementara itu Diana tidak mengetahui kalau dirinya diikuti oleh para berandal sejak sepulang kerja tidak menaruh curiga. Cewek itu menyalakan kran air mandi, lalu menuju kekamarnya. Diana menyalakan lagu disco, sambil melepaskan baju kerjanya.

Di kebun para berandal sudah mulai mengendap- endap sambil menyusun rencana untuk masuk ke dalam rumah. Edi dan Jack mendapat tugas mengawasi jalanan, sedangkan Emilo membuka pintu depan, Joe dan Billie mencari jalan masuk lewat belakang. Pada saat itu secara tidak sengaja Joe melewati jendela kamar Diana yang lagi membuka baju kerjanya. Roknya berada diatas ranjang, sementara Diana yang tubuhnya cuma terbungkus kemeja kerja dan celana dalam sambil berdisco membuka kancing kemejanya. Joe segera memanggil Billie untuk melihat pemandangan itu. Mereka menelan ludah melihat Diana yang meliuk-liuk merangsang menari disco. Ukuran dadanya yang sekitar 36B keliatan jelas banget belahannya ketika cewek itu sudah melepas kemejanya.
“Wow, Joe…LOOK AT HER TITS….aku ingin segera mencicipi tubuhnya….” Bisik Billie tanpa melepaskan padangan matanya menatap tubuh Diana yang hanya mengenakan baju dalam.
“He…he….he…sabar, Bill…nanti kita cicipi sama-sama, sampai pagi!” sahut Joe yang makin bernapsu melihat hal itu.

Beberapa saat kemudian Diana beranjak menuju kekamar mandi. Sementara itu Emilo yang berhasil membuka pintu depan segera memberi aba-aba pada teman-temannya untuk masuk. Para berandal itu sudah memperhitungkan segalanya, mereka mengunci pintu dari dalam sehingga nanti mereka bebas bertindak. Kabel telpon sudah mereka putus, cewek itu tinggal sendirian dan lagi badai yang akan datang sangat menguntungkan rencana mereka. Dengan leluasa mereka masuk ke kamar cewek itu. Jack membuka kulkas, yang lain masuk ke kamar Diana. Edi memeriksa lemari pakaian Diana.
“Hai….lihat apa yang kutemukan!” sambil menunjukkan barang temuannya. Joe segera menyahut celana dalam itu.

“Hmmmmm….mmmm…” Joe mencium celana dalam.
“Ingat aku yang pertama bercinta dengannya!” sahutnya sambil tersenyum penuh arti. Para berandal itu tak sabar membayangkan apa yang akan mereka nikmati. Lalu mereka mengambil posisi untuk bersembunyi.

Diana selesai mandi menuju keruang tengah. Tubuhnya hanya terbalut oleh baju dalam dan kemeja putih, duduk menikmati acara TV kabel. Waktu itu pukul 20:30, cewek itu tidak menaruh curiga bahwa ada orang lain dalam rumahnya. Tiba-tiba dari arah belakang salah seorang berandal maju mendekap tubuhnya. Diana terkejut dan segera berontak melepaskan diri.

“EVER BEEN GANG RAPED BABY? DON’T KNOW WHAT YOU BEEN MESSIN! YOU STILL REMEMBER US DON’T YOU……” ejek Edi.
Diana segera mengenali wajah itu menjadi ketakutan sekali, ia tak menyangka kalau para berandal itu benar-benar melaksanakan ancamannya.

Joe maju menerkamnya tiba-tiba, cewek itu menjerit ketakutan ketika berhasil dipeluk. Ia meronta-ronta dan menendang Joe. Tanpa disadarinya tendangannya mengenai selangkangan Joe membuatnya meringis kesakitan dan melepaskan dekapannya. Diana segera melepaskan diri dan lari menuju pintu depan. Para berandal segera mengejarnya sambil menyorakinya. Dengan sekuat tenaga pintu depan itu berusaha dibuka, tetapi usahanya sia-sia.

“Wooooo……woooooo……ha…ha…ha….ayo sayang, mau lari kemana kamu hah….ayo sini…ha…ha….ha…” Ejek para berandal yang mengejarnya dari belakang. Diana segera dikepung oleh para berandal. Mereka menyoraki ketidak berdayaannya. Diana didesak terus sampai merapat kedinding, Joe yang tadi meringis kesakitan mulai maju. Pada saat cewek itu hampir putus asa, ia berhasil berkelit dari kepungan berandal itu, lolos dan lari menuju ke dapur, Diana bermaksud lari lewat pintu belakang. Para berandal segera mengejarnya lagi. Nasib sial bagi Diana, begitu tangannya berhasil menyentuh gagang pintu, para berandal berhasil menangkapnya kembali. Rambut pirang Diana yang panjangnya sebahu terjambak, sehingga ia tidak bisa berbuat apa-apa.

“Aaaahhhh….aammpun…aaah” hiba Diana, sementara para berandal tersenyum sinis memandangnya.
“Sayang…. Kami akan memberimu pengalaman yang tak akan kau lupakan! kau tadi telah merusak acara pesta kami, sekarang kau harus membayarnya dengan tubuhmu yang indah itu……ha…ha..ha…, oya kau juga akan menyesal telah menendang punyaku, akan kujoblos kau sampai mampus! ” Joe maju dari kerumunan temannya.
Diana tak berdaya, rambutnya dijambak sementara tangannya dilipat kebelakang. Dari dapur ia diseret menuju ruang tamu saat itu pukul 20:45. Disana ia dikelilingi oleh kelima berandal sambil didorong-dorong.

“Sayang, kita akan berpesta denganmu!” seru Edi tak sabar sambil mendorong ke arah Billie.
“Ha…..ha…ha…. kau tak akan bisa lolos kali ini….” Ejek Billie sambil mendekap tubuh Diana. Mereka berteriak-teriak membuat Diana makin ketakutan.
“Kemarikan dia Bill….HEY BABE, I BET MY COCK WOULD FEEL REAL GOOD WARPED UP IN YOUR PUSSY!” seru Jack tak sabar, sambil mempraktekkan gaya bercinta penuh napsu. Diana didorong ke arah Jack yang segera merangkul nya dari depan. Mulutnya segera mencari dada cewek itu, sementara pinggulnya bergerak maju mundur seakan sedang bercinta dengannya.

“Wooooo…. Wooooou…..FUCK YOU GIRL, FUCK YOU…..” Jack menggerayangi cewek itu.
“Aaaahhhh…….aaam…punnn….aahhh…..jaa…aa ahhhh!!!” jerit Diana ketakutan.
Tiba-tiba dengan satu sabetan, tangan salah satu berandal merobek kemeja putih Diana, membuat cewek itu terpelanting. Emilo segera mendekap dari belakang. Sekarang tubuh Diana hanya mengenakan BH dan celana dalam saja, membuat mereka makin menjadi-jadi.

“Ah…aahh…aahh!” jerit Diana ketika tangan Emilo yang mendekap tubuhnya dari belakang mulai menggerayangi pahanya yang putih mulus.

“Kita akan memberimu pengalaman yang tak terlupakan, manis…ha…ha…ha…” bisik Emilo.
Para berandal lainnya ikutan beraksi. Tangan Edi meremas remas buah dada Diana. Jack memburu kemaluan Diana, sementara Billie dan Joe buka baju dan celana panjang mereka sambil tertawa sinis. Tubuh para berandal itu terlihat begitu kekar dan berotot.
“HEY, SOMEBODY GET BEHIND THE BITCH AND HOLD HER ARMS, I’M FUCKING HER FIRST!” Joe memberi aba-aba yang langsung disetujui teman-temannya. Cewek itu meronta-ronta di bopong kelima berandal itu keruang tengah.

“Jack, Emilo, kau pegangi tangan dan kakinya, terlentangkan dia di meja ini” perintah Joe.
Lonceng berdentang menunjukkan pukul 21:00. Disana Diana diterlentangkan di atas sebuah meja bundar. Masing-masing tangan dan kakinya dipegangi erat-erat oleh para berandal. Sinar lampu diatas meja membuat cewek itu silau, Diana hanya bisa melihat tubuh-tubuh kekar mengerubunginya dan tangan-tangan berotot meraba-raba dadanya, wajah sinis dan suara tawa para berandal mengejek ketidak berdayaannya.

Lidah Joe menelusuri lehernya yang jenjang. Diana berontak berusaha melepaskan diri, tetapi apa daya tenaga seorang cewek dibanding dengan lima laki-laki yang kesetanan. Jack dan Edi memegangi kakinya, sementara tangan kanan dan kiri Diana dipegangi erat-erat oleh Emilo dan Billie. Joe mencumbunya dengan kasar dan penuh napsu, tangannya dengan liar meremas-remas buah dada Diana.

“I CAN SEE THE NIPPLES POKING AT HER BRA!” kata Joe yang langsung disambut oleh tawa para berandal.
“HEY, CUT THAT BRA OFF MAN. WHAT’S WRONG WITH YOU?” sahut Emilo sudah tidak sabar lagi.

“Aaaah…..aaah….ooh…jangan…..aahkh!” jerit Diana ketika dengan satu hentakan kasar tangan Joe merobek BH yang dikenakannya. Para berandal makin seru menyorakinya. Mulut Joe segera melumat buah dada Diana yang sintal, sementara tangan kirinya masih meremas-remas buah dada sebelah kanan Diana. “Aaaaah….aaoooh…..ooooh…aahh …aaaahh…aaahhhhh….” desah Diana mengeliat-liat. Putingnya dijilati penuh napsu oleh lidah Joe.

“Ha….ha….ha…. kau sungguh mengiurkan sayang!” tawa Billie menelan ludah tak sabar ingin segera menikmati gilirannya. Joe sekarang membuka celana dalamnya sendiri, penisnya yang hitam besar 10 inci itu terlihat tegak siap beraksi.

“Kenyal sekali…..ha…ha…ha…”seru Joe sambil menerkam dan mulutnya menciumi buah dada cewek itu dengan buas. Tubuh Diana mengeliat-liat membusur, sementara buah dadanya diremas-remas sampai merah. Lidah Joe menelusuri buah dada Diana, lalu turun ke daerah perut dan menjilati pusarnya. Beberapa saat kemudian sambil tersenyum sinis, mata Joe memelirik kearah paha Diana.

“Oooohhh….jangan…..aaahhhh….” hiba Diana ketakutan tidak berani membayangkan diperkosa oleh kelima berandal kekar dan berotot.

Lalu tangan Joe mulai memelorot celana dalam Diana. Cewek itu berusaha mempertahankannya,
“Ha..ha…ha…percuma kau berontak manis!” ejek Joe ketika Diana berontak sekuat tenaga, tetapi Billie dan Emilo makin erat memegangi tangan Diana, perlahan- lahan celana dalamnya terlepas, rambut kemaluan Diana terlihat ketika celana dalam berwarna pink itu dari pinggul dilorot turun kepahanya dan akhirnya terlepas.

“Cihuuuiiii……Ha…ha…ha….PARTY TIMES… ha…ha…ha….” Teriaknya sambil memutar-putar celana dalam itu, lalu dicium dalam-dalam menikmati aromanya dan dilemparkan kelantai. Mata Joe jelalatan memandangi Diana yang telanjang bulat terlentang diatas meja. Diana lemas karena ketakutan, ia tak berani membayangkan para berandal itu akan ‘menelan tubuhnya ramai-ramai’. Para berandal makin ramai menyorakinya, mata mereka jelalatan memandang setiap lekuk tubuh Diana. Emilo yang tadi memegangi tangan Diana digantikan oleh Billie.

“Oooooh…..aaaahh….am…pun…..aaaah…jang… an…aaahh..” hiba tangis Diana.
“Diam!….THERE’S GOING TO BE A BIG PARTY IN YOUR PUSSY TONIGHT…..Ha…ha…ha…kita lihat siapa yang paling hebat bercinta denganmu!” ejek Emilo mendekati Diana sambil mengeluarkan pisau lipat. Diana ketakutan ketika Emilo memainkan pisau itu diantara buah dadanya sambil tersenyum sinis memandang tubuhnya. Pisau itu bergerak kearah puting susunya dan diputar-putar mengelilingi belahan buah dada Diana yang naik-turun karena napasnya tak beraturan. Hal itu membuat para berandal benar-benar terangsang. Pisau itu terasa dingin di buah dada Diana, lalu pisau itu bergerak kearah perut cewek itu dan turun ke daerah bawah pusar cewek itu. Edi menyeringai penuh arti ketika mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Emilo dengan pisau lipatnya.

“Ayo Milo, cukur sampai habis…..ha…ha…ha…ha…” seru Edi kegirangan.
“Aaaahh…..ohhhh…jangan….aaah….” teriak Diana sambil berontak, tetapi para berandal itu makin mempererat pegangannya, sementara pisau lipat itu dengan buas mulai beraksi mencukur rambut kemaluannya.

“Ha…ha….ha… kesempatan yang langka ini tak akan kami lewat begitu saja. Ayo manis berteriaklah semaumu, tak akan ada yang mendengarmu saat ini.” Ejek Joe sambil menerkam buah dada Diana, diremasnya kuat-kuat membuat cewek itu mengerang kesakitan sementara Emilo mencukur rambut kemaluannya tanpa foam pelicin sehingga Diana merasa perih. Billie, Jack dan Edi yang memegangi kaki dan kedua tangan Diana tertawa melihat cewek itu meronta-ronta. “Aaaaaagggg….aaaaoooohh….ooooohhh…oohh.. .” desah Diana buah dadanya diremas-remas oleh Joe. Suara desahan itu membuat para berandal itu makin terangsang.

Dengan buas pisau Emilo beraksi, dalam beberapa menit saja rambut kemaluan Diana telah tercukur habis. Daerah kulit bawah perut Diana yang tadinya ada rambut kemaluannya terlihat memerah. Emilo tersenyum puas, Joe segera maju sambil mementang kaki cewek itu lebar-lebar, sekarang ia berada diantara pahanya , memandang kemaluan Diana yang terlihat jelas karena rambut disekitar daerah itu habis tercukur.

“Ha…ha…ha…buah dadamu sungguh lezat, NOW I’LL EAT YOUR PUSSY!” kata Joe sambil menjilatkan lidahnya sementara matanya melirik kearah kemaluan Diana.

“Oooooh….lepas…kan….jang…an ..oooOOAAHH!” tangis Diana terhenti ketika Joe mulai menjilatinya. Lidah itu seakan menjulur panjang menjelajahi lorong vagina Diana. Tubuh cewek itu mengelinjang-gelinjang, sementara lidah Joe bergerak seperti cacing menggali lobang.

“Oooooohhhhh…aaaauuuuoooo…oooouuu…aaaah. ..” Desis Diana sementara kepalanya hanya bisa menggeleng ke kiri dan kanan. Tubuh Diana bergetar, tangannya mengepal erat-erat, Emilo menciumi leher dan daerah sekitar ketiak, sambil tangannya mencubit puting susu cewek itu. Jack melepaskan kaki cewek itu, dan ikutan mencumbu perut Diana. Lidah Jack menjilati pusar cewek itu.

“Uuuuuuhhhh….oooouuh…ooohhh…” suara desah Diana makin keras, ketika lidah Joe masuk makin dalam divaginanya.
“Ha…ha…ha….percuma kau berontak sayang, mau tak mau kau akan menikmati pesta ini!” ejek salah satu berandal.

Buah dada Diana memerah dan mengembang karena remasan tangan Emilo.
Joe makin bersemangat, ketika vagina Diana mulai berlendir. Lidah itu menjelajah makin dalam bersamaan dengan pekik desah Diana. Emilo masih mengulum buah dada cewek itu. Putingnya disedot kuat-kuat, membuat cewek itu mengeliat menahan rasa nikmat dan sakit yang bercampur menjadi satu. Tanpa disengaja dari puting buah dada Diana keluar cairan putih seperti susu. Emilo lebih bersemangat lagi menyedoti cairan itu, sementara tangannya meremas-remas buah dada Diana agar keluar lebih banyak.

“Uuuuggghhhh……uuuuuhhhh….uuuhhhh….aaauuuhh hhh….” desis Diana dengan napas tersedak-sedak.
“Ha…ha…ha….ternyata tubuhmu menghianatimukan? Diam-diam kau menikmatinya……BITCH!!!!” ejek Emilo sambil menyedoti buah dada Diana, kanan-kiri.

Lonceng berbunyi menunjukkan pukul 21:30. Rupanya para berandal itu senang bermain-main dengan tubuhnya dan berniat melakukan WARMING-UP sebelum memperkosanya. Diana hanya bisa mengeliat-liat dikerubuti para berandal yang kekar. Lidah Joe dengan lahapnya menjilati vagina Diana. Tidak puas hanya lidah, sekarang jari tangan Joe ikutan beraksi. Jari tengah dan telunjuk Joe masuk di lobang kemaluan cewek itu, diputar-putar seolah-olah mengaduk-aduk vagina Diana, sementara lidahnya ikut menjilati bibir kemaluan Diana.

“Aaaauuuuhhhhh……uuuuuhhh…..aaahhhh” desah cewek itu makin keras, membuat para berandal itu tertawa mengejek ketidak berdayaannya. Jari tangan Joe menusuk masuk dan bermain-main dengan klitorisnya, membuat Diana mengelinjang-gelinjang. Mata Diana terpejam, kepalanya menggeleng ke kiri kanan, Jack menciumi pusarnya, tangan Emilo meremas-remas buah dadanya. Setelah puas bermain-main, Joe mementang kedua kaki Diana.

“Joe mau pakai kondom?” tanya Billie. Joe menolak usul Billie.
“NO WAY….Ha…ha…ha….I WANT TO FEEL SKIN TO SKIN…ok sekarang saatnya manis… NOW LETS SEE JUST HOW TIGHT YOUR CUNT IS!” Joe mengangkat pinggul Diana tinggi-tinggi. Penisnya sekarang digesek-gesekkan disekitar bibir kemaluan Diana berusaha menyibak belahannya. Mata cewek itu terbelalak kaget ketika merasakan kepala penis Joe yang besar dan hangat. Batang penis itu berdenyut-denyut dibibir kemaluannya.

“Ohhh…ohhhh sekarang saatnya!” pikiran Diana melayang jauh ketika Joe mulai beraksi menindih tubuhnya.

“Ayo Joe cumbu dia sampai mampus……Cihuuui!!!” para berandal itu memberi semangat.
Joe merasakan rasa hangat yang mengalir pada kepala batang kemaluannya yang sudah menancap tepat pada pintu gua kenikmatan milik cewek itu. Joe menekan perlahan, seperempat dari bagian kepala kemaluannya mulai terbenam ….Diana menahan napas …. ditekan lebih dalam lagi …. separuh dari bagian kepala kemaluannya melesak masuk …. dengan lebih bertenaga Joe mendesak batang kemaluannya untuk masuk lebih dalam lagi.

“Ayo Joe! sedikit lagi! Masukin saja semua! Biar dia rasain Joe!” Emilo menyoraki Joe sambil meremas-remas buah dada Diana.

“AAAgggh!!!!” Pekik Diana merasakan sesuatu yang menyakitkan dipangkal pahanya ketika seluruh kepala kemaluan Joe sudah terbenam kedalam liang hangat miliknya, dengan satu hentakan yang kuat, penis Joe menyeruak masuk ke dalam vagina Diana membuatnya memekik kesakitan.
Sementara badai diluar mulai turun dengan deras dimulailah pesta perkosaan itu. Diana terlentang diatas meja bundar diruang tengah, tangan dan kakinya dipegangi erat-erat oleh Billie dan Edi, buah dadanya dijilati, disedoti oleh Jack dan Emilo, sementara penis Joe mengoyak-koyak vaginanya dengan ganas.

“Aaagh…..aaahh….ooooh….ooohh…” suara rintih Diana seiring dengan gerakan ayunan pinggul Joe yang kuat. Senti demi senti batang kemaluan Joe menelusur masuk menerobos keketatan liang kemaluan Diana yang sudah basah berlendir itu. Setiap ayunan Joe membuat tubuhnya mengelepar kesakitan karena penis yang besar itu berusaha masuk lebih dalam. Suara desahan Diana membuat para berandal itu makin bernapsu menikmati tubuhnya.

“Ayo Joe…..genjot terus sampai mampus….. ha…ha…ha…” seru salah satu berandal.
Joe merasakan begitu ketatnya ujung kemaluannya terjepit di dalam vagina Diana, selang beberapa saat penis itu terhenti menerobos keluar masuk.

“CAN’T SEEM TO GET MY COCK DEEP ENOUGH INTO YOU BABY!” Joe mengatur posisi pinggulnya, “YOU SO DAMN TIGHT!.” kemudian dengan satu hentakan yang kuat membuat batang penis itu hilang tertelan kemaluan Diana.

“AAAaaaaggggkkk!!” suara lolong histeris Diana ketika dengan satu hentakan kuat tanpa masalah penis itu beraksi lagi di liang vagina Diana yang berlendir, rupanya selaput perawan Diana robek.
“Uuuugggghhhh…. SO YOU’RE STILL A VIRGIN? Ha…ha…ha….manis, kau tak akan melupakan pengalaman ini!” ejek Joe, Penis itu dengan mudah menerjang keluar masuk dengan cepat, sementara tubuhnya menghentak hentak barbar diatas Diana yang mendesah-desah tak berdaya. Kemaluan Diana terasa akan robek oleh desakan penis Joe yang menyeruak masuk keluar dalam-dalam seperti membor kilang minyak. Joe melengkuh-lengkuh nikmat, pinggulnya berayun-ayun memompa, penis itu keluar masuk.

Kaki Diana terangkat tinggi diatas meja terayun-ayun seirama gerakan pinggul Joe menghujamkan keluar masuk batang penisnya yang dengan barbar beraksi divaginanya.

Diana berharap ia dapat pingsan saat itu juga supaya tidak merasakan sakit yang tak terlukiskan itu. Para berandal itu menyanyikan lagu “ROW YOUR BOAT”.
“Aaaahhh…aaaahh….ammm….pun….aahh…
aaahh…aaahh….sakit..ahhhhh..aaaahhh….”jerit Diana. Pinggul Joe bergerak seperti pompa. Penis itu keluar masuk seiring desahan Diana.

“Ayo Joe coblos terus, coblos…coblos…woooo…
wooooo BABY….” teriak Emilo sambil menciumi dada cewek itu.
“Delapan puluh delapan……delapan puluh sembilan….sembilan puluh…Ayo…” dengan semangat Edi menghitungi setiap hujaman penis Joe.

“Aaaaahhh….wahhhhaaa….aaaah….uuuuh…
uuugh….” pekik Diana, sementara Joe berayun-ayun diatas tubuhnya. Cewek itu hanya bisa terisak-isak. Suara petir menyambar di sela-sela badai.

“YEAAAHHH. HOW’S IT FEEL, BABE, HOW’S IT FEEL WITH A REAL MAN’S BIG COCK IN YOUR BELLY? OOOOOOOOOOOOO YOU FEEL SO GOOD, SO HOT.” ejek Joe sambil memaksa Diana yang mendesah untuk melihat penisnya mengenjot keluar masuk lorong vaginanya. Diana bisa merasakan setiap inci dari otot dibatang penis Joe bergerak menelusuri lorong kemaluannya.

“Uuuh…uuuh….uuaah…” lengkuh Joe, sudah sekitar setengah jam dia berayun-ayun diatas cewek itu, keringat membasahi tubuh keduanya, tetapi gerakan pinggulnya tetap ganas, penisnya menyodok-sodok dikemaluan Diana, tangannya menggerayangi pahanya dengan liar.
Sementara itu Emilo membuka celana panjang dan celana dalamnya sendiri, penisnya panjang, (tetapi tidak sebesar Joe sekitar 8.7 inci) sudah tegak menegang. Jack masih asyik menyedoti puting buah dada Diana. Sesekali cewek itu berusaha memberontak, tetapi Edi dan Billie mempererat pegangannya. Joe melengkuh-lengkuh nikmat di atas tubuh Diana yang mengeliat-liat menahan berat tubuh Joe yang menindihnya.

“Seratus enam puluh enam…… seratus enam puluh tujuh…..seratus enam puluh delapan…..ayo Joe taklukan dia….ha…ha…ha…” Edi menyemangati yang langsung diikuti oleh para berandal yang lain.

“Seratus tujuh puluh tiga….seratus tujuh puluh empat…seratus tujuh puluh lima….” Para berandal yang lain ikutan menyemangati Joe.
Tubuh dan buah dada Diana berguncang-guncang seirama dengan hentakan genjotan Joe yang makin liar. Vaginanya terasa terbakar oleh gesekan penis Joe yang buas.

“Aaaaaaahhhh…..aaaaaa….aaaaaahh…..aahhhh…. ..ooooohhh” Diana melolong menahan sakit.
“Ayo…….ayo….seratus delapan puluh delapan…..seratus delapan puluh sembilan….seratus sembilan puluh….ha…ha…ha…” Edi memberi semangat.
“Uuuuaah….uuuuuh….uuughh…tubuhmu nikmat sekali!” Joe mengejek Diana yang mengigit bibirnya menahan sakit. Pinggulnya maju mundur diantara selangkangan cewek itu. Jack dengan gemas mengigit puting buah dada Diana, sementara tangannya yang satu meremas- remas buah dada sebelah kanan.
“Aaaaahh……uuuughhh…..uuughh…uuukkkh….ooo uuuughh…” rintih Diana, sementara gerakan Joe mulai pelan, tapi mantap.

“Seratus sembilan puluh enam…..seratus sembilan puluh tujuh….” Semua berandal menyemangati Joe. Batang penisnya keluar masuk dengan barbar.
“”I’M COMING, BABY!” lengkuh Joe.
“OH GOD! NO, PLEASE ! NOOOOO!! NOO! DON’T COME INSIDE ME!!! NOOO, PLEASE!!!!…..AAAKKKHHHH!” kepala Diana terjengkang keatas, sementara terdengar suara lolong kesakitan ketika batang penis itu menghujam dalam-dalam divaginanya.
Dengan satu hentakan kuat Joe mencapai klimax, penisnya menyemburkan sperma dalam lorong kemaluan Diana.

“Uuuuuugggh…..ha…ha…ha….bagaimana?” ejek Joe sambil mencabut penisnya dengan perkasa.
“kau akan digilir sampai pagi!!…..ha…ha…ha…NEXT!!!” seru salah satu berandal.
Sementara itu kilat diluar menyambar-yambar, waktu itu pukul 22:25. Diana hanya bisa terisak-isak, Emilo maju sambil menyeringai. Tanpa perlawanan yang berarti, Emilo sudah berada di antara selangkangan cewek itu.

“Ha…ha…ha…IS MY TIME TO RIDE, BABY I’M GONNA TAKE MY TIME AND FUCK YOU NICE AND SLOW. LET’S SEE HOW LONG I CAN KEEP MY DICK HARD IN THIS WONDERFULLY TIGHT CUNT OF YOURS. SEE HOW LONG I CAN KEEP YOU MOANS…..!” ejek Emilo, sementara batang penisnya dengan mudah masuk ke vagina Diana. Emilo memulai gerakannya, pinggulnya bergerak memutar, memastikan penisnya masuk penuh, lalu bergerak maju mundur perlahan tapi dalam. Pinggulnya berayun-ayun pelan dan mantap, diantara kedua paha Diana yang terbuka lebar, sambil meremas-remas buah dadanya. Kadang jari-jari tangan Emilo melintir-lintir puting susu cewek itu, tubuh Diana hanya bisa mengeliat-liat, sementara dari bibirnya yang terbuka terdengar suara erangan dan desah.

Penis itu beraksi di vaginanya, pinggulnya diangkat ke antara pinggang Emilo yang maju mundur. Jack meninggalkan kerumunan menuju kulkas diruang makan. Joe duduk disofa, sambil melihat teman-temannya beraksi diatas tubuh Diana. Billie masih dengan erat memegangi tangan kanan dan kiri Diana, juga Edi yang memegangi kedua kaki Diana. Suara desah erangan cewek itu bagai musik merdu ditelinga mereka. Tubuh Diana basah kuyup karena keringat, sementara Emilo melengkuh-lengkuh nikmat.

“Ooooooooohhhhhh…….uuuuuuhhhhh…..uuuhhhh…. .uuhhh…..
ha…ha…ha….” suara Emilo, penisnya yang panjang tanpa ampun terus mengenjot kemaluan Diana. Buah dadanya dijadikan bual-bualan oleh Emilo. Giginya mengigiti putingnya dengan gemas, membuat Diana menjerit kesakitan. Terlihat bercak-bercak merah bekas cupangan disekitar leher dan dada ditubuh Diana.

“Aaaahhh…..aaaaoooohhh….ooooohhhhhh…ooooohhh h…..” desah Diana merasakan penis Emilo menusuk keluar masuk divaginanya. Sudah sekitar lima belas menit Emilo beraksi, tubuh Diana berguncang-
guncang seirama ayunan pinggul Emilo.

Pukul 23.10. Kilat dan guntur bersahutan diluar, membuat jalanan bertambah sepi.
“Hah…hah….hah……uuuggghhh…”lengkuh Emilo, sekarang ayunannya tidak perlahan seperti pertama, tetapi berirama cepat dan dalam. Vagina Diana terasa perih terbakar oleh gesekan penis Emilo.

“Ha….ha…ha….. tunggu punyaku manis, YOU WILL LOVE IT!” seru Edi sambil mengolesi penisnya sendiri dengan selei sehingga kepala penis itu terlihat gilap dan lebih besar dari yang sebelumnya.

“Uuuuuggghhhh…….uuuuuggghh…… uuuugggghhhh……”desah Diana pendek seirama keluar masuk penis Emilo di kemaluannya.
Edi meremas-remas penisnya sendiri, sambil memandangi setiap lekuk tubuh Diana.
“Ha…ha…ha….Ed, kau sudah tak sabar ya?……” tanya Billie sambil matanya terkagum melihat penis Edi yang makin besar, sehingga kepala penis itu seperti jamur.

“Oooooohhhhhh….uuugggghhh…..oooohh……
oooohh……..HERE I CAMEEE……!!!!” jerit klimax Emilo, penisnya menghujam dalam-dalam sambil menyemprotkan cairan putih.

“Aaaaaaakkkkkhhhhhhh……oooohhh……” pekik Diana diantara lengkuhan nikmat Emilo.
Emilo mencium kening Diana yang terlentang terengah-engah diatas meja.

“FUCK YOU BABE!…..ha…ha..ha….” ejek Emilo sambil mencabut penisnya.
Posisinya segera digantikan oleh Edi. Kepala penis yang besar itu digesek-gesekkan di antara paha Diana. Edi memandangi tubuh Diana yang sintal dan mulus basah oleh keringat.

“LET’S GO TO HEAVEN, manis…ha…ha…ha….” Bersamaan dengan kata itu Edi menciumi buah dada Diana, sementara tangannya mengesek-gesekkan penisnya di bibir kemaluan cewek itu.

Teriakan Diana tertelan badai yang ganas, pukul 23.45. Diana, meronta-ronta tubuhnya membusur digumuli Edi yang penuh napsu, sementara para berandal yang lain tertawa terbahak-bahak. Tangan Diana yang dipegangi oleh Billie,membuatnya tak bisa melawan, sehingga dengan leluasa Edi menciumi tubuhnya. Dari leher, lidah Edi terus menelusur turun ke buah dadanya, disedotnya kuat-kuat buah dada cewek itu, membuatnya mengerang kesakitan, lidahnya menjilati dengan lahap cairan yang keluar dari puting susu Diana. Tiba-tiba dengan hentakan yang kuat penis Edi menerobos masuk kemaluan cewek itu.

“Aaaaakkkkkkkhhhhh…….”Diana berteriak kesakitan. Penis itu terus berusaha masuk penuh, Diana bisa merasakan kepala penis yang besar itu berusaha masuk lebih dalam di vaginanya.
“Uuuuugggghhhhh…..sempit sekali….uuuuaahh…
hhhaaaa….”seru Edi sambil terus mendorong masuk penisnya.
“Ayo…..Ed,……ha….ha…ha….masukkan semuanya….biar mampus dia!” teriak Joe menyemangati Edi.

Sekarang kepala penis itu sudah masuk, Edi diam sebentar merasakan otot vagina Diana yang berusaha menyesuaikan diri dengan penisnya. Dinding vagina Diana serasa meremas-remas penisnya, membuatnya lebih tegang.

“Ha….ha…ha….kulumat kau, manis!” bisik Edi sambil mulai menggenjotkan penisnya dengan barbar. Joe menciumi leher Diana, Jack meremas-remas buah dadanya, Emilo meratakan olesan selai, sedangkan tangan Edi mementang pahanya agar lebih leluasa penisnya bisa maju mundur diliang kemaluan Diana.

“Aaaahhhh……aaahhhhhh…..aaaggghhhh…
aaahhhhh…” lolongan desah Diana digarap ramai-ramai. Suara desah dan erangan Diana terdengar bagai musik merdu ditelinga para berandal. Tanpa menghiraukan Diana yang sudah kelelahan, mereka terus berpesta menikmati tubuh cewek itu. Bagai menyantap hidangan lezat, mereka melahap dan menjilati tubuh Diana yang basah, mengkilat karena olesan selai dan keringat. Penis Edi menerobos keluar masuk dengan cepat, sementara disetiap hentakan tubuhnya terdengar erangan Diana menghiba kesakitan. Jack yang meremas-remas buah dadanya sekarang mulai menjilatinya penuh napsu, sedangkan putingnya disedoti agar keluar cairan seperti susu, Joe terus menciumi leher Diana yang jenjang.

“Uuugggh…….uuuuggghhh……..aauughh…..
uuugghhh….uuuuggghhh….” rintih Diana, sudah sekitar lima belas menit Edi berpacu dengan birahi, peluh membasahi tubuhnya. Edi melengkuh-lengkuh penuh napsu, menikmati setiap inci hujaman penisnya dilorong kemaluan Diana.

“Haaah…..haaah….uuuggh…..bagaimana manis, asik bukan…..kau akan digilir sampai pagi…ha…ha…
ha….Haah….haaah….” seru Edi sementara pinggulnya bergerak seperti memompa diantara kedua paha Diana. Buah dada cewek itu memerah diremas-remas dengan kasar oleh para berandal. Tubuh Diana berguncang-guncang dengan ganas seirama ayunan Edi.

“He…he…he…..buah dadamu lezat sekali, ya…..kau akan membayarnya dengan tubuhmu sayang!” ejek Jack sambil menjilatkan lidahnya keudara sementara tangannya meremas-remas buah dada cewek itu dengan napsu. Diana hanya bisa terisak-isak sambil menahan sakit disekujur tubuhnya yang basah kuyup karena keringat dan selai. Penis Edi makin ganas menggenjot cewek itu.

“Aaaauuh…..aaagggh……uuuuugggghhhh…
uuuughhhhh….” pikik desah Diana. Vaginanya terasa panas dan perih oleh gesekan penis Edi yang barbar.

Badai masih ganas, didekat lantai meja makan, terlihat BH dan celana dalam Diana berserakan sementara diatas meja Diana diperkosa dengan ganas oleh lima berandal yang kekar, tubuhnya dipentang dan dijilati penuh napsu. Buah dadanya dicengkram dan diremas-remas, lehernya diciumi, puting dan pusarnya dijilati, sementara Edi melengkuh-lengkuh nikmat, cewek itu hanya bisa merintih dan mendesah karena penis besar dan hitam beraksi menghentak-hentak barbar keluar masuk diantara selangkangannya. Waktu menunjukkan 24:16 Edi sudah hampir mencapai klimax, irama ayunan pinggulnya makin cepat tanpa perduli Diana yang terengah-engah kelelahan, Jack menggigit puting buah dadanya, membuat Diana mengerang kesakitan.

“aakkkh….aaahh…ooooohhhh…” rintih Diana diantara lengkuh nikmat Edi.
“Huuuh…uuuhhh…..uuuuhhh…..uhhhh….
HUUAAAHHHH…..” jerit Edi mencapai klimax, dengan satu hujaman yang kuat, penisnya masuk hilang tertelan dilorong vagina Diana.

“Aaaaakkkkhhhh….” jerit Diana tertahan, tubuh cewek itu mengeliat kejang, lalu lunglai, pingsan kelelahan, sementara penis itu menyemburkan banyak sprema dalam vaginanya. Peluh menetes dari tubuh Edi yang masih menindih cewek itu.
“Ha…ha…ha….tubuhmu sungguh menggairahkan sekali…” Raut wajahnya terlihat puas, beberapa saat kemudian Edi mencabut penisnya, sambil mencium leher Diana yang masih pingsan. Jack siap-siap maju mengambil posisi.

“Biarkan dia istirahat dulu, nggak enak kalau nggak ada perlawanan” Cegah Joe.
“Kita beri dia obat perangsang saja!” usul Billie sambil tersenyum penuh napsu.
“Jangan, kita simpan itu untuk yang terakhir” Joe duduk disofa.
Beberapa menit kemudian, sekitar pukul 24:40, Diana yang baru saja siuman dibopong ramai-ramai menuju kamarnya, disana cewek itu dilempar ke ranjang dan langsung diterkam oleh para berandal yang sekarang semuanya sudah telanjang bulat. Cewek itu berusaha berontak melarikan diri, tetapi dengan cekatan para berandal itu menerentangkan tubuh Diana. Cewek itu berteriak ketakutan ketika para berandal dengan buas menggumuli tubuhnya.
“Aaaahhhh…..aampun…..aaaahhhh….”hiba Diana, sementara Edi dengan kasar mulai meremas-remas buah dada kanannya. Joe berusaha mencium bibirnya yang merah merekah. Emilo menjilati dan menyedoti puting sebelah kiri.

“Aaaaduuuhh…aaaaawww…aaaahhh…..ja….
ja….ngan…”teriakan Diana tak digubris. Jack maju mengambil posisi diantara kedua kakinya, tersenyum sinis sambil membungkuk menciumi leher cewek itu. Diana mengeliat-liat tak berdaya. Lidah Jack menelusur turun dari lehernya menuju perutnya Diana.
“Aaaaaahhh…..le…paskan…..aaaahhh” jerit Diana ditengah kerubutan berandal. Jack mulai menjilati daerah pusar Diana.

“Manis…tadi kulihat kau suka disco! bagaimana kalau sambil diputarkan lagu…hmmm?…
disco…rock…atau metal?….OK metal saja!” Billie mengejek Diana. Beberapa saat kemudian terdengar lagu metal, membuat para berandal itu lebih bersemangat menikmati setiap lekuk tubuh Diana.
“Ha…ha…ha…manis, kami masih belum puas!” ejek Jack. Billie membaca surat yang ditemukannya dimeja rias pinggir ranjang.

“Hmmmm…..SO YOUR NAME’S Diana McCatry….
INTERESTING….” gumam Billie sambil melihat Diana yang mendesah-desah tak berdaya dijilati dan diciumi teman-temannya. Beberapa saat kemudian Billie naik keatas ranjang, berbaring disamping cewek itu.
“Nah Diana sayang, ARE YOU READY TO LOSE YOUR VIRGINITY IN ANOTHER HOLE? kau benar-benar beruntung manis! kau pasti puas!” kata Billie sambil menjilat muka cewek itu yang menangis ketakutan. Billie merangkul tubuhnya dari samping dan digulingkan menghadapkan keatas terlentang sehingga posisinya sekarang dibawah Diana.
“Hai….sayang pestanya dilanjutkan. Manis kau pikir tadi sudah yang paling sakit, tunggu yang ini kau akan rasain sakit yang sebenernya!” kata Emilo sambil menerkam gemas buah dadanya.

“Dan sekarang kau dapat kehormatan manis BECAUSE I’LL TAKE YOUR ASS VIRGINITY!!” mata Diana terbelalak ketakutan.
“Oooohhh….jang…aan…PLEASE!!!!” hiba Diana disela isak tangisnya.

“Dianay kau akan merasakan sesuatu yang belum pernah kau bayangkan sebelumnya sayang!” ejek Billie.
Cewek itu berusaha berontak sekuat tenaga, tapi kerubutan dan remasan dibuah dadanya membuatnya tak bisa berkutik. Diana didudukkan tepat diatas tubuh Billie, berandal itu mengarahkan penisnya yang tegak di lobang anus cewek itu dan segera dihujamkan dalam anus Diana tanpa pelumas sehingga membuatnya menjerit kesakitan.
“AAAAKKKKKKKHHHHHH!!!!” lolong Diana, sementara penis Billie (10 inci) masuk penuh dalam anusnya, sekarang cewek itu dipaksa tidur terlentang. Jack diatas menindihnya sementara Diana meronta-ronta kesakitan, anusnya terasa sakit oleh batang penis Billie yang berada dibawahnya. Jack yang sudah puas menjilati perut Diana, sekarang mementang kedua paha Diana, mengarahkan penisnya (8 inci) ke lorong vagina cewek itu. Apa daya tenaga seorang cewek yang dikeroyok lima lelaki kekar, dengan mudah masing-masing tangan Diana diikat dengan tali BH dijeruji pilar ranjangnya agar tidak bisa berontak.
Jack segera memasukkan penisnya ke vagina Diana yang masih meronta-ronta, sambil tertawa terbahak-bahak. “Ha….ha…ha…. sayang sekarang kau rasakan ini!” sambil berkata seperti itu, Jack dan Billie mulai menggoyangkan pinggul mereka. Penis Billie bergerak naik-turun dianus sedangkan penis Jack menyodok keluar masuk seirama nada metal yang makin bersemangat. Teriakan cewek itu tertelan oleh bunyi halilintar yang keras. Usaha Diana untuk berontak membuat ikatan ditangannya makin erat dan menyakitkan. Tubuh Diana meronta-ronta kesakitan, tanpa disadarinya gerakannya itu makin membuat Jack dan Billie yang memperkosanya makin terangsang. Tubuhnya mulai menggelinjang kesana kemari, pinggulnya bergerak-gerak ke kanan, kiri, memutar, sementara Billie yang dibawah mempertahankan kecepatan ritme keluar masuk batang penisnya dianus Diana. Suara kecipak akibat gesekan kemaluan mereka berdua semakin terdengar. Sodokan batang penis Billie dianus Diana membuat tubuh cewek itu meliuk-liuk tak beraturan dan semakin lama semakin bergerak naik seolah menantang kejantanan Jack.
“Ha…ha…ha….Dianay kau suka ya? Nih akan kumasukkan lebih dalam lagi! HAAAHHHH!!!!” teriak Jack sambil bertumpu pada remasan tangannya dibuah dada cewek itu ia menyodokkan penisnya lebih dalam ke vagina Diana.

“Oooooohhhh……aaahhh….aaahhhh…aahh…
ampun…amp..aaaaahhh…aaahh!!!!” erang Diana kesakitan. Sementara kedua penis berandal itu mengkoyak-koyak vagina dan anusnya, begitu penuh nafsu, ganas dan liar. Melihat pemandangan itu dan terbakar oleh api birahi, para berandal lainnya sambil tertawa terbahak-bahak melihat ketidak berdayaan Diana, mereka meremas-remas penis mereka sendiri.
“Ohhh….ha…ha…ha….bagaimana sayang, bagaimana rasanya….puas nggak? tenang pestanya masih lama….tunggu giliran kita…ha…ha…ha..” seru para berandal lainnya.
Beberapa menit saja penis mereka sudah tegak tegang siap beraksi kembali. Ranjang berderit-derit seirama musik metal dan gerakan mereka yang barbar, Diana ditindih ditengah-tengah mereka yang menghentak-hentak berpacu dalam birahi. Gerakan Billie bagaikan dongkrak memaksa tubuh Diana mengelinjang keatas mengundang penis Jack masuk ke lorong vaginanya, sedangkan gerakan Jack yang seperti memompa dari atas menekan kebawah sehingga penis Billie masuk penuh, begitu seterusnya, membuat cewek itu terengah-engah menahan rasa sakit di anus dan vaginanya sekaligus. Billie menciumi leher, tengkuk, telinganya penuh napsu.
“Uuuggh…uuggh…uuuughhh….” rintih Diana seirama ayunan kedua penis itu. Cewek itu bisa merasakan seakan-akan kedua penis itu saling bertemu dan bergesekan didalam perutnya, hanya berbeda lorong saja.
Jack dan Billie melengkuh-lengkuh nikmat. Buah dadanya diremas-remas dengan kasar sekali oleh Jack. Diana merasakan kesakitan, tapi remasan dibuah dadanya membuatnya tetap tersadar. Para berandal yang lainnya bersorak-sorak menyemangati keduanya melahap tubuh Diana , Penis-penis mereka digesek-gesekkan di tubuh cewek itu. Waktu menunjukkan Pukul 01:20 sementara pesta perkosaan itu makin brutal terbawa napsu birahi para berandal. Badai diluar makin ganas dan guntur sesekali menggelegar menelan teriakan Diana. Joe menemukan lipstik dimeja rias dan dioleskan dengan paksa dibibir Diana.