Sabtu, 18 Mei 2013

* Cerita Asik 25 Gelapnya Sel Tahanan

Gelapnya Sel Tahanan

"Aku tidak bersalah apapun" protesku
"Nanti saja urusannya, pokoknya ikut ke kantor"
"Anda tidak berhak menahanku" 

"Melawan petugas ya!" ancam petugas tramtib ketika mereka menertibkan kawasan liar di pinggiran rel kereta api, dua tangan kekar mencengkeram lenganku dikiri dan kanan dan menggelandang aku masuk kedalam mobil tahanan bersama beberapa orang lagi yang sudah berada didalam mobil tersebut. Kebenaran aku lagi ngluyur tak tentu arah dan sialnya ikut kena garuk aparat tramtib tanpa mau tahu alasan mengapa aku ada disana dan satu satunya yang menjadi alasan adalah karena aku tidak dapat menunjukkan kartu identitas pada malam itu. Ya bagaimana aku dapat menunjukkan kartu identitas, karena aku hanya berniat santai sejenak dengan baju kaos buntung celana volley yang kantongnya jebol tentunya aku tidak dapat membawa dompet yang berisi KTP. 

Sidang tipiring berlangsung super kilat dan keputusannya aku ditahan sementara sampai besok pagi di tahanan polsek karena tidak dapat membayar denda serupiahpun dan tidak ada keluarga atau sanak saudara yang datang membebaskanku, klik kunci sel membuka kamar tahanan dan aku didorong masuk. Klik kunci berbunyi lagi pintu kamar tertutup rapat dan aku masih gelap berusaha menyesuaikan pandangan mata dengan gelapnya ruangan tahanan itu. Buset, kakiku menginjak sesosok tubuh 

"Heh, mata loe mana, jangan asal nyosor aja" sesosok tubuh yang aku injak bersuara kesal karena tubuhnya aku injak 

"Oh, maaf mas, aku nggak sengaja" tukasku lirih
Aku mundur sedikit dan duduk berjongkok menunggu pulihnya pandanganku menyesuaikan diri dengan suasana gelap didalam kamar tahanan. Astaga, ternyata didepanku tadi bukan satu orang tetapi dua orang lagi gencet yang aku injak, setelah pandanganku pulih dan mengamati suasana kamar. Eh bukan dua orang tapi empat orang, tiga orang saling tindih mengentot dan seorang lagi berada didepan ketiga orang tersebut dengan kontol ngaceng bergantian diselomoti oleh ketiga orang yang saling mengentot itu, dan disudut lain dari kamar tahanan ada dua orang 69 saling menyepong kontol dengan buas dan berkecipak kecipok. Buset, berarti aku adalah orang ke tujuh dalam kamar tahanan sesempit ini dan aku tak tahu apa yang harus aku perbuat diantara mereka yang sedang bergulat memuaskan hawa nafsu jalang. 

"Arrggh... shh... arrggh... shh... gua mo mancrut neh" terdengar desahan salah seorang dari mereka
"Hi yes... ohh... hi yes... mancrutin aja"
"Ohh... memekmu seret banget, ohh... arrggh" 

"Gimana kagak seret, kontol loe berdua mononin pantat gua, arrggh... shh... arrggh... enaaak"
Aku tertidur duduk didalam kamar tahanan itu entah untuk berapa lama sampai ketika aku terbangun oleh karena udara bertambah panas ternyata sudah siang dan terasa ada belaian tangan dipahaku.
"Paha loe putih mulus banget" kata seorang tahanan yang brewokan, muka bopeng bekas jerawat batu, tersenyum mesum ketika aku bangun dan menatap mukanya yang berada dekat dengan mukaku. Dan tanpa merasa risih sedikitpun segera dia mencipok mulutku yang asem belum sikat gigi didepan tatapan kelima orang tahanan lain. Tangannya menjalar mengusap dada dan pentilku dari pinggir robekan kaos buntungku dan shrieek.. kaosku direnggutnya hingga pentilku yang merah jambu terpapar terbuka keluar dari kaos buntungku yang robek dibagian dada itu akh... 

"Nyam nyam, pentil susumu merah jambu euy" katanya pula sambil mengemut pentilku lidahnya dengan nakal mengusap usap pentilku dan tangannya mulai masuk kedalam celana volley yang aku pakai langsung menggerayangi kontolku. Aku deg deg ser apalagi ketika tahanan lain mulai beranjak mendekati dan menjamah sekujur tubuh aku yang sedang terengah engah dikerjai oleh tahanan yang brewokan ini. 
 
"Heh, loe pade ntar dapat bagian, gue duluan yang merawani" bentak sibrewok kepada tahanan lain dan mereka berhenti menjamah dan dan shrieek pantat celanaku dengan ganas dirobek olehnya
"Dudukin kontol gua" perintah si brewok yang kini berbaring dengan kontol gede item berjembut lebat tegak ngaceng kaya tugu monas dengan kepala kontolnya gede merah keunguan segede muka anak anjing baru lahir. Belum tahu dia siapa aku, seakan segan aku berpura pura takut melihat kontolnya dan hal itu membuat dia nggak sabaran segera menangkap kudukku untuk kemudian diarahkannya mulutku untuk menyepong kontolnya dan 

"Ayo masukkan lobang pantat loe, gue hajar juga loe kalo ngelawan" bentaknya
Aku mengangkangi tubuhnya dan dengan memegang kontolnya yang keras tegang tegak berdiri aku arahkan kelobang pantatku dan bless... kepala kontolnya yang gede menyeruak masuk membuka cincin lobang pantatku, secara perlahan senti demi senti batang kontol gede sepergelangan tanganku masuk kedalam lobang pantatku sampai pinggir lobang pantatku menyentuh jembutnya yang tebal dan biji pelerku dan biji pewlernya beradu... akh, aww atiiit mas, ahh... gede banget aww... 

"Diem lo jangan berisik, eh Jon sumbat mulutnya dengan kontolmu" si brewok menghardikku dan memerintahkan tahanan yang dipanggil Jon untuk mengentotin mulutku dan dalam sekejap kontol si Jon yang udah ngaceng berat masuk menghunjam mulutku sampai kepangkal tenggorokan... arrggh. Aku mulai menggeol, menggoyang dan menggitekkan lobang pantatku sehingga kontol gede si brewok terpilin pilin didalam lobang dan mengaduk isi lobang pantatku. Keringat membasahi tubuh kami karena selain permainan seks yang sedang berlangsung seru juga udara panas dalam kamar tahanan yang sempit berisi tujuh orang menyebabkan keringat membanjir basah kuyup licin, sisa baju kaosku lengket abis ketubuh demikian pula baju tahanan lainnya sama basah kuyupnya mencetak setiap lekuk dan tonjolan tubuh mereka, akh erotik banget... euy 
 
Brewok muncrat abis abisan akibat pilinan otot cincin lobang pantatku dan kini dia mempersilahkan rekan tahanan lain untuk menikmati tubuhku. Jon menggantikan posisi brewok berbaring dengan kontolnya tertancap dilobang pantatku dan sebuah kontol lain datang menghunjam bareng masuk kedalam lobang pantatku dan dua kontol lain bergantian keluar masuk kedalam mulutku, si Brewok kini minta dientot pula oleh tahanan yang satu lagi, sambil nungging kaya anjing dan mulutnya berada menyepong kontolku yang ngaceng berat berlumuran pre cum, kumis dan janggutnya terasa menggelitik batang kontol dan biji pelerku shh... enak mas, shh... akh sedot lagi mas... arrggh... oh shit, fuck me harder..... aku muncrat abis didalam mulut si brewok hingga sebagian pejuhku membasahi kumis dan janggutnya. Satu persatu pula tahanan itu kembali memuntahkan lahar panas semburat hormon lelaki perkasa kedalam tubuhku, berlumuran keringat bercampur liur dan pejuh akhh... bertujuh kami terkulai lemas, tergolek dilantai tahanan terengah engah mengatur nafas yang hampir mau putus akibat kekurangan oksigen oleh karena sumpeknya kamar tahanan yang sempit itu.
Siang menjelang sore, aku dikeluarkan dari kamar tahanan karena masa penahananku sudah selesai karena hanya kasus tipiring, tindakan pidana ringan, tidak membawa KTP. Polisi yang membebaskanku mengangkat alisnya tinggi melihat penampilanku yang babak belur, baju dan celana robek berlumuran keringat dan pejuh, sekujur tubuh penuh cupang dan bekas gigitan jejas permainan gangbang bersama 6 tahanan lain 

"Lho kamu tak apa apa?" tanyanya prihatin
"Hmm... nggak papa pak, tambah satu malam lagi juga boleh koq" jawabku kalem
"Akh dasar homo anjing geladak loe ah, doyan kontol juga rupanya" gerutunya sambil memandangi tubuhku yang putih mulus berjejas cupangan dan tonjolan diselangkangannya segera membengkak
"Hmm..." 

"Ayo kesini isepin kontol gua" polisi itu mengeluarkan senjata kejantanannya yang sudah siap dikokang untuk menembakkan pejuh 

Kesempatan nggak boleh dilewatkan, kontol polisi yang keluar dari celana seragam coklat ketat ngepas aku kilik kilik lobang kencingnya aku jilat kepala kontolnya dan batang kontolnya aku emut sampai kedua biji peler polisi tersebut aku kulum.
"Kontolnya gede banget mas" kataku memujinya
"Jangan banyak bacot ah, emut aja" oceh polisi
"Kalo ngentot kontol ini pasti nge-joss ye" 
 
"Shh... enak banget, sekarang gua mo entotin pantat loe, nungging!" perintahnya padaku
Masih dengan seragam lengkap polisi itu mengembat lobang pantatku yang masih licin anget oleh timbunan pejuh tahanan, desahan erangan dan lenguhan jantan bagaikan kuda liar mengentotin betinanya dia memuntahkan pejuhnya didalam lobang pantatku dan sebelum aku diijinkan keluar dengan bebas dia mengharuskan aku menjilatin lelehan pejuh di kepala kontol, batang kontol, jembut dan biji pelernya. 

"Slluurrph... slluurrph... akhhh... slluurrph"
lelehan pejuh aku seruput dan lidahku menjilat pinggir bibirku yang belepotan pejuh polisi tersebut. Di kamar tahanan ke enam tahanan saling ngloco dan pejuh kembali muncrat berhamburan kemana mana ketika melihat polisi mengentotin aku di depan mereka, minta pada pak polisi agar aku dimasukkan kembali kekamar tahanan untuk mereka nikmati lagi kehangatan sedotan mulutku dan empotan lobang pantatku, gay gangbang. 
 
"Pulang loe sana lonte homo anjing, sebelum boolmu brantakan dedel dower dibuat mereka" polisi mengusirku dari polsek tersebut dan aku berjalan gontai menuju kamar kostku dengan pejuh masih meleleh perlahan anget licin membasahi lobang pantat dan berulang kali aku muncrat didalam celana volley basah berlumuran pejuh yang sudah robek disana sini sebelum aku tiba dikamar kostku

* Cerita Asik 24 A N D I DAN A N T O

A N D I DAN A N T O
 
by : Fadli Vhaleandra


Namaku Andi. Aku mengenal dunia ini tahun 1999, usiaku saat itu 19 tahun. Saat itu aku bekerja di salah satu perusahaan armada taksi yang berlambang burung. Aku bekerja di sana sebagai tenaga lepas di salah satu sekolah luar negeri di bilangan Bintaro, dimana perusahaan bekerjasama dengan sekolah tersebut. Aku bekerja sebagai Chaperone. Aku tidak menyangka bahwa di pool taksi yang berada di daerah

pemakaman Bung Hatta ternyata ada staff yang mempunyai kelainan seksual juga. Karena pada saat itu aku baru mengenal dunia semu ini. Siang itu, tanggal 30 November 1999, aku baru selesai mengerjakan tugas (sebagai tenaga lepas aku bekerjahanya part time). Aku masuk ke dalam ruangan untuk menemui omku yang sedang ada di pool. Walaupun Omku sebenarnya mempunyai kantor di sekolah luar negeri.

Setelah selesai bertemu, aku kemudian keluar melalui pintu samping dan aku bertemu dengan seorang staff yang ingin masuk. Aku tersenyum kepadanya karena aku pikir untuk menghormatinya. Lalu dia membalas senyumanku disertai pandangan matanya yang memancarkan sinar yang aneh. Aku menundukkan kepala karena aku tidak kuat untuk menatapnya. Dia terus memandangku, padahal aku sudah berlawanan arah. Dari balik pintu kaca, dia terus memandangiku dan aku pun juga begitu. Lalu aku duduk di dekat pos satpam sambil menunggu temanku yang akan pulang bersama. Tempat aku duduk berhadapan dengan ruang kerja staff gudang tempat dia bekerja. Dia kembali dari ruang utama menuju ruang kerjanya. Sambil lewat dia memandangiku dengan berusaha mengedipkan matanya dan tangannya menunjukkan jam. Aku tersenyum dan mengerti akan sign-nya, bahwa aku harus menunggu dia pulang kerja sekitar jam 16:00, padahal saat itu waktu baru menunjukkan jam 14:00. Akhirnya aku menunggu dia selama 2 jam.

Saat dia pulang, dia terus melihatku dan memberi tanda untuk mengikutinya. Aku mengerti dan mengikutinya naik mobil jurusan blok M. Dia naik mobil itu bersama temannya di pintu depan, sedangkan aku di pintu belakang. Aku melihatnya mengobrol dengan temannya, tetapi matanya terus memandangku. Dia turun di tikungan yang akan ke arah Mayestik dari Singgalang sambil matanya mengajakku untuk turun. Kami duduk dan mengobrol di halte bus dekat pom bensin. Kami berkenalan. Dia mengaku bernama Anto. Sambil bicara, tangannya mulai menyentuh dan mengelus paha bawahku. Aku diam saja walau aku mulai merasa celana dalamku sesak. Dia berusia sekitar 30 tahun dengan wajahnya ditumbuhi kumis serta jenggot yang baru tumbuh seusai dicukur. Tangan kirinya terus mengelus paha bawahku, sedangkan tangan kananya menghisap rokok Malboro.

Hari mulai senja dan akhirnya kami naik Patas jurusan Senen. Di dalam bis yang kebetulan sepi, dia memegang tanganku dan meremas senjataku. Aku pun juga meremas senjatanya yang sudah menegang keras dan panjang. Kami turun di pintu I Senayan, menuju ke Stadion Senayan. Kami berjalan berkeliling memutari Stadion. Kemudian aku merasa ingin pipis, mungkin karena perlakuan dia kepadaku di bis tadi. Lalu dia mengajakku keluar melalui pintu V yang remang-remang dan menyuruhku pipis di situ. Aku tidak bisa pipis karena dia berada di bawahku sambil duduk.

“Aku ngga bisa pipis.” kataku.

Lalu dia tersenyum dan mendekatiku yang sedang berdiri sambil memegang senjataku. Dia duduk tepat di depan senjataku yang telah menegang, lalu dia mulai menjilati senjataku dengan lidahnya.

“Akh…” aku merasa sesuatu yang aneh yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Dia mulai menghisap serta menggerakkan mulutnya maju mundur, aku merasakan desakan yang sangat hebat sambil membelai kepalanya aku melihat sekelilingku takut ada orang yang lewat.

“Gila…” pikirku.

Dia begitu hebat dan mahir, mungkin karena dia sudah berpengalaman. Dia terus mengocokkan senjataku ke dalam mulutnya dan matanya terus memandangiku.

“Ah… oh… uh… akhhh…” aku menjerit hebat ketika aku merasakan sesuatu akan meledak di dalam mulutnya.

Tubuhku bergetar dan tanganku meremas pelan rambutnya. Dia menelan semua spermaku.

Lalu dia mengajakku duduk di sampingnya seraya berkata, “Ndi, rahasiakan yach kejadian ini, jangan sampai terdengar di pool.”

Aku tersenyum dan mengiyakan.

“Kamu ngga dikeluarin?” tanyaku.

“Ngga usah, biar kamu aja.” jawabnya.

“Kok ditelan?”

“Iya, itu artinya saya sayang kamu.”

Kemudian dia menciumi leherku dan aku meraba bagian depan celananya. Ternyata dia sudah tegang, lalu kukeluarkan senjatanya dari celananya. Penisnya cukup besar dan panjang, aku mulai mengocoknya dengan tanganku, sedangkan dia terus menciumi leherku. Tidak berapa lama kemudian, dia mengeluarkan laharnya sampai muncrat ke jalanan. Dia tersenyum bahagia, aku pun demikian. Dia memberiku nomer telpon kantor. Sejak itu aku mulai menelpon dia dan kami selalu melakukannya baik itu di senayan maupun di kamar bilas keluarga Gelanggang Renang yang ada di Jakarta Utara.

Pada saat bulan puasa, tepatnya malam tahun baru 2000, aku jebol satu kali dengan dia. Sehari setelah lebaran pertama, kira-kira jam 15:00, aku menelpon Anto dan mengajaknya bertemu. Padahal belum ada seminggu kami bertemu, tetapi aku merasakan rindu.

Dia bilang, “Kenapa, kangen yach? Kangen sama apanya? Gimana kalau nanti sore kita ke tempat biasa. Kamu tunggu di Halte bis pelayaran, soalnya aku ngga bawa celana renang.”

“Memangnya kita mau berenang?” tanyaku.

Dia tertawa, tawanya yang sangat aku suka.

“Ya, engga sich. Nanti kamu ngga usah ke pool, langsung aja ke sana.”

“Aku ngga tahu tempatnya, gimana kalau besok aja sepulang kerja?” usulku.

“Oke dech!”

Hari Selasa, tanggal 11 Januari 2000, kami pergi naik taksi tempat dia bekerja dari Singgalang. Sepanjang jalan dia melirikku tanpa bisa berbuat apa-apa karena takut ketahuan sama sopir taksi. Lalu tanganku menyusup ke belakang badannya dan dia memegang tanganku dari samping. Sesampainya disana, dia memesan kamar bilas keluarga VIP II. Kemudian kami naik ke lantai dua. Kamarnya terletak di sudut yang sepi. Kami masuk ke kamar itu dan dia langsung membuka bajunya.

“Saya mandi dulu.” katanya.

Dengan tubuh telanjang, dia masuk ke kamar mandi, lalu mandi di shower tanpa menutup pintu. Aku yang telah telanjang, melihat dia mandi sambil duduk. Dia tersenyum dan menarikku kepelukannya. Sambil berdiri dan disertai guyuran air hangat, dia menciumku. Lidahnya terus bermain dirongga mulutku. Aku memegang lehernya sambil membelai rambutnya. Aku berjongkok dan mulai menghisap senjatanya yang menurutku besar dan panjang serta berbentuk bagus.

“Ahh… ooohh… Ndi trus yang kuaaat,” desahannya semakin keras.

Aku mengulum dan menggerakkannya keluar-masuk. Lalu dia mulai menghisap penisku dan meyuruhku untuk berbalik membelakanginya. Aku tahu apa yang dia inginkan, karena kami pernah melakukannya. Dia merupakan orang yang pertama memasuki tubuhku. Tangannya mulai membelai pantatku dan menyibakkannya. Tidak lama, dia mulai menjilati anusku.

“Oh… ahh… ssst… To… enak…” desahku keenakan.

“Masukin yach Ndi?”

Aku menganggukkan kepala. Dia mulai memasukkan penisnya ke dalam anusku.

“Akh… To… pelan-pelan, sakiiit…”

“Iya… nanti juga enak.” katanya menenangkanku.

Kami melakukanya sambil berdiri. Lalu dia membimbingku keluar dari kamar mandi sambil menciumi leher dan telingaku, sementara penisnya masih tetap menancap di anusku. Dia duduk sambil bersandar di dinding dan penisnya yang besar mengacung ke atas. Aku disuruh menungging, sementara dia menjilati anusku.

“Oh… ya… enak To, terusin To…” desahku ketika lidahnya masuk ke anusku.

Lalu dia memegang pinggangku dan mendudukkan pantatku di atas penisnya.

“Oh… akh… ssshh… To sakiiiit… enaaaak… ahhh…” desahku ketika kepala penisnya mulai masuk perlahan-lahan.

“Sabar yach sayaang… ohhh… saya pelan-pelan… mmmh… yach…” sambil terus menciumi punggungku.

“Ahhh… pantatmu enak banget sayaaang… sempiiit… trus Ndi, yang kuaaat… oooh… ya.”

Mendengar desahannya yang kuat, aku semakin cepat menaik-turunkan pantatku, walaupun terasa sakit tapi enak. Lalu aku membalikkan badan dan kini kami berhadapan, sambil duduk kami terus bergoyang.

Dia mencium bibirku serta mempermainkan lidahnya di dalam mulutku. Semua lubang yang ada di diriku disumpal miliknya.

“Aaakkh… mmhhh…” desahku ketika dia mulai menghisap puting dadaku.

Aku mulai membelai rambutnya, sementara mataku terpejam karena sensasi yang luar biasa yang diberikan Anto kepadaku.

Aku bertanya kepadanya, “To, kamu sayangkan sama saya?” dia menganggukan kepala.

Setelah puas dengan gaya itu, dia menidurkanku, lalu kakiku diangkat kebahunya dan dia mulai memasukkan penisnya.

“Oh… yeaaahh… mmhhh… enak Ndi?”

“Mmhh… yach.” kataku.

Beberapa menit kemudian, goyangan kami semakin cepat.

“Ndiii… saya kelluarin di pantat kamu ya?”

“Aaahhh… ya, ya.” jawabku.

“Ooohhh… yaaa… Ndiii… enaaak…” gerakannya semakin cepat dan aku mulai mengocok penisku agar kami keluar bersamaan.

“Aku mau keluaaar… aaahhh…” teriaknya diiringi kemudian dengan, “Croott… creet… croot.”

Spermanya keluar di dalam pantatku. Dia tersenyum.

“Kamu mau keluar Ndi?” tanyanya kemudian.

“Tooo… aku juga mau keluar akhhh… ohhh… aku mengocokkan penisku dengan cepat.

Dia mengocok penisku dengan tangannya.



“Aaahh… ooohhh… Toooo… creeet… crooot…” aku keluarkan seluruh spermaku hingga muncrat kewajahku.

Kami berciuman lagi sebagai rasa terima kasih.

Ketika melihat jam tangannya, Anto mengatakan, “Ndi, kita main 1 jam loch.”

Kami masuk jam 18:00, dan kini sudah jam 19:00. Aku tersenyum manis.

“Kamu mau berenang?” tanyanya.

Aku menggelengkan kepala. Dia duduk bersandar dan aku tiduran di pangkuannya. Aku mengelus jenggotnya yang sangat aku suka dan Anto membelai celana dalam yang kupakai. Aku melihat kemaluannya sudah berdiri lagi. Dia menundukkan wajahnya ke selangkanganku dan menghisap penisku. Aku pun tidak tinggal diam dan mulai menghisap penisnya, kami melakukannya dalam posisi 69, dia di atas dan aku di bawah. Kami melakukan hubungan sex lagi untuk kedua kalinya di kamar mandi di bawah guyuran air hangat dari shower.

Pukul 20:00, kami pulang dan dia mengantarku sampai ke depan Atrium Senen. Padahal rumahnya di jalan yang namanya seperti nama burung besar yang letaknya dekat sebuah Hotel sebelum pelayaran Senen. Hubungan kami tetap berlanjut hingga dia menghindar dariku yang tidak kuketahui apa sebabnya. Kami melakukannya terakhir kali tanggal 11 Februari 2000 di gelanggang renang. Mungkin karena dia tahu bahwa aku keponakan temannya atau ada hal lain yang aku tidak ketahui. Tetapi sekitar bulan September, kami bertemu di kantornya dan aku sengaja menghindarinya, lalu aku telpon dia.

Dia bilang, “Kamu sombong, kok menghindar begitu?”

“Kamunya yang begitu, kenapa kamu menghindar dari saya?” tanyaku.

“Aku kan lagi sibuk, banyak kerjaan.” katanya.


TAMMAT